Tampilkan postingan dengan label kejadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kejadian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Januari 2016

Pendalaman Alkitab: Keluaran - Tulah, Mujizat, dan Prinsip Kelepasan


Sekarang saya mau kita berfokus pada kisah tentang kelepasan yang digambarkan dalam Kitab Keluaran. Seperti yang telah saya katakan, kata kelepasan adalah sama dengan kata keselamatan. Ketika kita sampai kepada subjek tentang kelepasan dalam Kitab Keluaran, tentang keselamatan yang dialami oleh umat Allah, kita melihat kuasa Allah. Hal itu adalah karena tidak ada yang namanya keselamatan tanpa kuasa Allah, baik dulu maupun sekarang. Dalam Kitab Keluaran, Anda akan melihat kuasa Allah diperlihatkan dengan cara yang sangat unik, dimulai dengan kesepuluh tulah.  
*Tulah
Kisah kesepuluh tulah adalah gambaran tentang suatu kebenaran besar yang diajarkan dalam Alkitab mulai dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu. Dalam 1 Yohanes 4:4, kebenaran ini dinyatakan demikian: “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia.” Demikianlah penerapan devosional dari kisah tentang kesepuluh tulah itu. Dalam Keluaran 5:1, Musa dan Harun mengajukan permohonan mereka yang pertama kepada Firaun untuk melepaskan bangsa Israel. Akan tetapi Firaun hanya mengejek. Permintaan itu sangat menggelikan. Motivasi apa yang mungkin dimiliki Firaun? Alasan yang mereka berikan tidak berarti apa-apa bagi Firaun: “Allah bangsa Ibrani telah menjumpai kami; oleh karenanya, lepaskanlah kami sebab demikianlah Allah menyuruh kami untuk menyampaikannya kepadamu.” (1) Dalam kisah ini, kita juga melihat apa yang mungkin kita sebut sebagai “prinsip-prinsip kelepasan” dari kuasa dosa atau kejahatan. Saat Musa menuntut kelepasan umat Allah dan Firaun menolak melepaskan mereka, datanglah tulah. Pada akhirnya, tulah-tulah ini merubah keadaan. Sedikit demi sedikit, Firaun mulai takluk kepada kuasa Allah. Akan tetapi, sementara Firaun mulai takluk kepada kuasa Allah, tolong Anda perhatikan dialog di antara Musa dengan Firaun. Banyak orang yang meyakini bahwa Musa adalah gambaran pembebas kita, yaitu Yesus Kristus, dan Firaun adalah gambaran Iblis, yang melambangkan kejahatan. Kalau kita memahami dinamika dari apa yang terjadi di antara Musa dengan Firaun, kita mungkin memahami dinamika dari apa yang terjadi di antara Yesus Kristus dengan Iblis sekarang ini dalam kelepasan atau keselamatan kita. Misalnya, perhatikan apa yang dikatakan Firaun dalam Keluaran 8:25 setelah Musa menuntut bangsa Israel untuk diizinkan pergi dan memberikan persembahan kepada Allah mereka. Firaun berkata, “Pergilah, persembahkanlah korban kepada Allahmu di negri ini.” Dengan kata lain, “Jangan meninggalkan Mesir!” Setelah beberapa tulah lagi, Firaun kembali setuju melepaskan bangsa Israel untuk mengadakan ibadah keagamaan mereka, namun ia bersikeras menuntut kompromi: “Baik, silakan pergi, namun jangan terlalu jauh.” (8:28). Hal ini merupakan gambaran bagaimana tekanan menimpa mereka yang baru saja menjadi orang  percaya. Misalnya, “Baiklah, kalau engkau mau menjadi orang Kristen, silakan, namun aku berharap engkau tidak menjadi fanatik seperti mereka itu. Maksudku, aku berharap engkau tidak terlalu jauh atau terlalu serius.” 
Dalam Keluaran 10:8-10, setelah beberapa tulah lagi, Firaun mengalah sedikit lagi. “Baiklah, silakan pergi, namun jangan membawa anak kalian. Tinggalkan anak kalian di Mesir.” Ketika Iblis mengetahui bahwa ia tidak lagi mungkin membuat kita mengkompromikan iman kita, ia akan berusaha menguasai anak kita. Sungguh menakjubkan betapa begitu banyak orang yang menjadi beriman namun mereka “meninggalkan anak-anak mereka di Mesir.” Setelah beberapa tulah lagi, Firaun mengatakan, “Silakan pergi, namun tinggalkan ternakmu di Mesir” (10:24). Seolah-olah si jahat meminta agar kita tidak membawa kekayaan kita ke dalam iman kita. Saya percaya bahwa demikianlah strategi Iblis, yang dalam hal ini dilambangkan oleh Firaun. Prinsip pertama kelepasan adalah jangan pernah berkompromi dengan Iblis. Jangan membiarkan si jahat menggoda Anda untuk menetap di Mesir (dunia), bersikap apatis tentang iman Anda, meninggalkan anak-anak Anda di Mesir, atau meninggalkan kekayaan Anda di Mesir. 
*Mujizat
Akan tetapi kalau Anda sudah terlanjur berbuat dosa, seperti sebagian besar orang, bagaimana jalan ke luarnya? Kitab Keluaran mengatakan: untuk ke luar dari perbudakan dan tirani dosa, Anda membutuhkan mujizat. Kita melihat gambaran tentang mujizat-mujizat yang kita butuhkan digambarkan dalam Paskah, dan dalam menyeberangi Laut Merah. Mujizat-mujizat itu menjadi tanda dari kelepasan terakhir bangsa Israel dari Firaun. Tulah terakhir adalah amarah murka Allah yang mengambil nyawa semua putra sulung di Mesir. Disaat umat pilihan Allah merayakan Paskah, amarah murka Allah lewat di atas orang Mesir. Yesus menunjukkan hubungan antara Paskah ini dengan keselamatan kita ketika Ia memberitahu para rasul bahwa kematian-Nya di kayu salib adalah penggenapan dari segala yang digambarkan dalam Paskah (Lukas 22:16). Sepanjang dialog Musa dengan Firaun, Anda tahu bahwa Firaun tetap tidak mau melepaskan bangsa Israel. Firaun terus saja mengubah pikirannya. Sebentar Firaun mengatakan, “Silakan pergi,” namun ketika tulahnya mereda, ia mengatakan, “Jangan pergi.” Bahkan setelah melepaskan mereka, Firaun kembali mengalami perubahan hati. Ketika umat Allah terpojok di Laut Merah, Firaun mengerahkan armadanya dan tampaknya Firaun mau membantai mereka. Jelas bangsa Israel kembali membutuhkan mujizat. Musa melakukan apa yang Allah perintahkan kepadanya, dan sisa ceritanya sudah tidak asing lagi. Laut Merah terbelah menjadi dinding yang sangat tinggi, dan bangsa Israel menyeberanginya dengan berjalan di atas tanah yang kering. Ketika bangsa Mesir berusaha mengejar mereka, dinding air tersebut roboh menenggelamkan bangsa Mesir. (14:21-28). Ketika membaca tentang mujizat dalam Perjanjian Lama, Anda harus memutuskan apakah Anda mempercayai hal supernatural atau tidak. Saya percaya kepada mujizat ini. Saya mempercayai kisah ini apa adanya. Saya percaya bahwa kejadiannya persis seperti yang digambarkan. Saya percaya bahwa kisah ini menggambarkan keselamatan kita. Dibutuhkan mujizat Allah untuk menyelamatkan Anda. Dibutuhkan mujizat Allah untuk menyelamatkan saya. Itulah yang digambarkan mujizat Paskah dan terbelahnya Laut Merah bagi kita. Setelah bangsa Israel menyeberangi Laut Merah dan mencapai padang belantara, mereka menghadapi suatu masalah baru. Apa yang akan mereka makan dan minum di tengah-tengah padang belantara? Antara dua hingga tiga juta orang membutuhkan makanan dan air. Musa tidak tahu harus bagaimana. Akan tetapi Allah tahu. Sekali lagi, Allah memenuhi kebutuhan mereka dengan mujizat. Pada suatu pagi mereka bangun, seluruh tanah ditutupi oleh benda berwarna putih. Mereka heran, “Apa ini?” Dalam bahasa Ibrani, pertanyaan “Apa ini?” adalah manna, maka demikianlah mereka menyebutnya. Sejak saat itu, manna selalu datang bagi mereka setiap pagi. Makanan yang Allah sediakan bagi bangsa Israel jelas sudah memenuhi segala kebutuhan gizi mereka, sebab mereka memakannya selama empat puluh tahun. Pemeliharaan supernatural ini menunjukkan satu lagi mujizat yang kita butuhkan – yaitu ketahanan. Siapa atau apa yang menjadi sumber ketahanan Anda? Apakah Anda mengandalkan perekonomian negara, atau mengandalkan kemampuan Anda untuk memenuhi kebutuhan Anda? Sumber dari segala yang kita butuhkan adalah Allah. Ketika kita bersandar kepada-Nya, Ia memberi kita apa yang kita butuhkan, saat kita membutuhkannya. Mereka harus mengumpulkan manna itu setiap hari, yang melambangkan ajaran Yesus, bahwa ketika berdoa, kita mengatakan, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Sebelum makan, kita mengucap syukur atas makanan kita, mengakui fakta bahwa Allah adalah sumber dari makanan tersebut dan juga sumber dari segala yang kita butuhkan. Pemeliharaan Allah terhadap bangsa Israel selama empat puluh tahun mengembara di padang belantara mengingatkan kita akan kebenaran tentang pemeliharaan Allah. 
*Kelepasan Kita
Dalam Kitab Keluaran, kita juga menemukan dasar keselamatan kita dan bentuk ibadah kita yang terpenting. Sakramen pada inti kelepasan bangsa Israel telah menjadi sakramen pada inti keselamatan kita. Umat Allah telah diperintahkan untuk mengorbankan seekor domba dan mengoleskan darahnya pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas rumah mereka. Demikianlah gambaran salib Kristus, yang memungkinkan amarah murka Allah lewat dari pada kita. Yesus, Anak Domba Allah, dikorbankan demi kita, dan darah Yesuslah yang menyelamatkan kita. Yesus Kristus adalah Anak Domba Allah, yang digambarkan oleh Anak Domba Paskah. Saya berdoa semoga Anda melihat mujizat yang melepaskan bangsa Israel dalam Kitab Keluaran ini sebagai gambaran tentang mujizat yang menyelamatkan kita sekarang ini.  

Pendalaman Alkitab: Keluaran - Keberatan Manusia dan Rahasia Rohani


Kita telah melihat bagaimana Allah mempersiapkan Musa untuk melepaskan bangsa Israel. Dalam studi ini, kita akan mempelajari rahasia yang Allah sampaikan kepada Musa, yang akan menjadikan Musa sarana pelepasan oleh Allah; dan kita akan melihat bagaimana Musa menanggapi panggilan Allah untuk menjadi seorang pembebas. Rahasia Allah untuk menjadi instrumen pelepasan dapat dirangkum dalam satu pernyataan: “Bukan engkau yang melepaskan – melainkan Aku. Tanpa Aku, engkau takkan sanggup melepaskan siapa pun. Akan tetapi Aku sanggup, dan Aku menyertaimu, Musa. Engkau bahkan tidak mau melepaskan bangsa ini, namun Aku mau.” Prinsip ini berlaku bagi Musa, demikian juga bagi kita. Semua ini Allah berikan kepada Musa di semak yang menyala. Musa kuatir karena dirinya tidak pandai berbicara. Mungkin Musa memang tidak pandai berbicara atau bicaranya gagap. Apa pun itu, yang jelas Allah mengetahuinya namun tetap menghendaki Musa pergi menghadap Firaun dan menuntut kelepasan bagi bangsa Israel. Bahkan, mungkin Allah menghendakinya justru karena Musa memang tidak pandai berbicara atau bicaranya gagap. Allah mau setiap orang mengerti bahwa kelepasan adalah berkat kuasa-Nya dan bukan karena karisma orang tertentu. Itulah sebabnya Allah menghendaki seorang pria Ibrani, seorang gembala (yang dibenci oleh bangsa Mesir lebih daripada mereka membenci bangsa Ibrani), yang mungkin gagap bicaranya, untuk menghadap Firaun menuntut kelepasan bagi umat-Nya. Ketika umat-Nya berhasil dilepaskan, Allah tidak mau siapa pun mengatakan, “Semuanya ini berkat Musa. Bicaranya fasih sekali. Saya menyaksikan sendiri ketika ia menuntut kelepasan bagi bangsa Israel. Sungguh hebat!” Allah tidak menghendaki demikian. Itulah sebabnya Allah memilih orang yang dipilih-Nya. Keluaran 4:11 mengatakan: “Tetapi Tuhan berfirman kepadanya: ‘Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan?”  Sebagian orang sulit menerima hal itu. Menurut saya pelajaran yang ingin disampaikan di sini adalah sama seperti yang ingin disampaikan melalui kehidupan Yusuf: dinamika kehidupan kita masing-masing adalah rancangan Allah. Mungkin kita takkan pernah mengetahui alasannya, namun Allah menjadikan kita sebagaimana adanya. Dan Allah ingin menyampaikan: “Seandainya Aku menginginkan orang yang fasih, Aku sanggup menjadikanmu fasih.”
Pada saat itu, Allah memberi Musa sebuah pelajaran kecil. Allah menanyakan kepadanya, “Apa yang kaupegang itu?” Dan Musa menjawab, “Tongkat gembala.” “Letakkanlah.” Ketika Musa meletakkan tongkatnya, tongkatnya berubah menjadi sesuatu yang Allah gunakan secara luar biasa selama pelayanan Musa. Secara harafiah, kata “mendedikasikan” artinya “meletakkan.” Lalu Allah menyuruh Musa memasukkan tangannya ke dalam bajunya dan mengeluarkannya lagi. Ketika Musa mengeluarkannya, ternyata tangannya terkena kusta. Allah menyuruhnya mengulanginya dan kali ini tangan Musa menjadi tahir (4:2-7). Allah sangat sabar menanggapi segala keberatan Musa. Akan tetapi, ketika pada akhirnya Musa mengatakan, “Ya Allah, utuslah orang lain,” (4:13) Allah menjadi marah. Saya bertanya-tanya, ketika Allah memanggil Anda untuk menjadi alatNya, apakah Anda mengajukan keberatan yang sama? Apakah pada akhirnya Anda juga mengatakan, “Utuslah orang lain, jangan saya”? Banyak tokoh Alkitab yang dengan jujur mengatakan, “Allah, saya tidak mau melakukannya.” Demikian pula yang disampaikan Musa. Dalam hal-hal tertentu, hal itu masuk akal, sebab motif orang yang bersedia melakukannya sering kali layak dicurigai. Tentunya, pada akhirnya Musa pergi juga. Dan sukses. Akan tetapi bukan dirinya yang sukses, melainkan Allah. Beberapa orang mempunyai banyak kemampuan namun kurang bersedia. Beberapa orang kurang mempunyai kemampuan namun sangat bersedia. Kitab Suci mengatakan bahwa tidak menjadi soal apakah Anda mampu atau tidak mampu. Yang penting adalah bersedia untuk melakukan. Dalam karya Allah, kemampuan yang terbesar adalah bersedia untuk dipakai. Allah memakai kita bukan karena siapa kita atau apa kita, atau apa yang kita inginkan, melainkan justru terlepas dari siapa kita, apa kita, dan apa yang kita inginkan. Kebenaran terpenting yang Allah ajarkan kepada Musa dapat dirangkum sebagai berikut: Bukan aku, melainkan Dia, dan Dia menyertai aku. Aku tidak sanggup, namun Ia sanggup, dan Ia menyertai aku. Aku tidak mau, namun Ia mau, dan Ia menyertai aku. Bukan aku yang melakukannya, melainkan Dia, sebab Ia menyertai aku. Itulah empat rahasia rohani. 
Saya tidak mungkin berfungsi sebagai seorang manusia atau sebagai seorang pendeta Injil tanpa secara pribadi menerapkan rahasia rohani ini dalam kehidupan saya maupun pelayanan saya. Saya percaya bahwa Anda juga akan belajar menerapkan keempat rahasia rohani ini, yang dipelajari Musa di semak duri yang menyala.

Kamis, 28 Januari 2016

Pendalaman Alkitab: Keluaran - Membangkitkan Seseorang yang Bukan Siapa-siapa


Untuk memahami Kitab Keluaran, Anda perlu memahami bangsa Israel, masalah mereka, dan nabi mereka. Kitab Keluaran adalah kisah tentang umat Allah dan bagaimana mereka terluput dari perbudakan di bawah kepemimpinan Musa. 
*Tiga Pesan Utama
Seperti yang telah kita pelajari, kata Keluaran artinya “jalan ke luar.” Pesan Kitab Keluaran sesungguhnya adalah: Bagaimana jalan ke luar dari perbudakan bangsa Israel ini? Perbudakan ini, yang pertama-tama adalah perbudakan fisik, dan kisah tentang kelepasan mereka dari perbudakan adalah salah satu mujizat terbesar dalam Alkitab. Kisah mereka adalah kisah nyata. Suatu perjalanan sejarah. Bagaimana kejadiannya dan apa saja yang terlibat sungguh merupakan pesan yang sangat menarik dari Kitab Keluaran, dan itulah fokus pertama Kitab ini. Selain bersifat sejarah, Kitab Keluaran juga memuat kebenaran kiasan untuk diterapkan dalam kehidupan kita masing-masing dengan setia. Yaitu: Kita pun adalah budak.
Kita tidak melakukan apa yang ingin kita lakukan; kita melakukan apa yang harus kita lakukan. Dan kalau kita melakukan apa yang harus kita lakukan dan bukan apa yang ingin kita lakukan, kita tidaklah bebas. Kalau kita tidak bebas, kita adalah budak, dan kita pun membutuhkan solusi atas perbudakan ini. Kita perlu menemukan kelepasan dari perbudakan kita terhadap dosa. Kata keselamatan, yang sudah tidak asing lagi, sesungguhnya sama artinya dengan kata kelepasan dalam Perjanjian Lama. Keselamatan sesungguhnya adalah kelepasan dari dosa. Bukan saja dari hukuman dosa di masa sekarang maupun di masa yang akan datang, melainkan juga dari kuasa dosa. Hendaknya kita juga memfokuskan studi kita tentang Kitab Keluaran ini pada karakter nabi Musa. Jika Anda memperhatikan orang-orang pilihan Allah dalam Alkitab, Musa jauh melebihi yang lain. Saya sepenuhnya meyakini bahwa Musa adalah orang pilihan Allah yang terbesar dalam Kitab Suci. Anda dapat menghargai kebesaran Musa apabila Anda merenungkan kontribusinya bagi karya Allah. Abraham menjadi bapa bangsa pilihan Allah dan seperti yang telah kita bahas sebelumnya, Yakub yang memberi mereka nama dan Yusuf yang menyelamatkan mereka dari bencana kelaparan. Akan tetapi coba Anda merenungkan apa yang dilakukan Musa bagi mereka! Kitab Keluaran adalah catatan Alkitabiah akan apa yang dikontribusikan Musa bagi karya Allah. 
*Kontribusi Musa bagi Karya Allah
Pertama-tama, Musa memberikan kebebasan bagi bangsa yang diperbudak ini. Sebagian besar orang tidak tahu, seperti apa rasanya menjadi budak. Ketika orang dipenjara, satu-satunya hal yang merasuki mereka, menguasai mereka, adalah hasrat untuk bebas. Musa memberi para budak ini apa yang paling mereka inginkan: kebebasan. Lalu Musa memberi mereka apa yang paling dibutuhkan orang yang baru merdeka yaitu pemerintahan atau hukum. Dalam dunia rohani, Musa memberi umat Allah ini dua hal yang tak ternilai: Ia memberi mereka Firman Allah, dan ia memberi mereka ibadah. Ketika orang membaca Alkitab dari awal, mereka tidak kesulitan membaca Kitab Kejadian, terutama tentang tokoh-tokohnya. Lalu ada drama Keluaran, yaitu kelepasan dari Mesir. Itupun tidak sulit. Akan tetapi, begitu sampai ke tiga pasal terakhir Kitab Keluaran dan memasuki Kitab Imamat, mereka mulai kesulitan membacanya dan banyak yang pada akhirnya berhenti membaca Alkitab, sebab rasanya mulai seperti membaca buku pedoman atau penuntun. Padahal sesungguhnya memang demikian.
Ketika Anda memahami maksud dari buku pedoman, Anda akan mulai tertarik. Bagian akhir Kitab Keluaran dan keseluruhan Kitab Imamat adalah buku penuntun untuk beribadah.  Kalau kita dibiarkan sendirian, kita tidak tahu bagaimana caranya beribadah. Sama seperti halnya para rasul meminta agar Yesus mengajari mereka berdoa, bangsa Israel pun perlu diajari bagaimana caranya beribadah – demikian pula kita. Di gereja-gereja yang memberlakukan apa yang kita sebut “liturgi”, pendeta lebih banyak membelakangi jemaat dan menghadap altar. Gereja-gereja ini dan gereja-gereja kaum Yahudi, memiliki bentuk ibadah yang berakar dari yang kita temukan dalam kemah ibadah yang dibangun Musa atas perintah Allah itu. Saya ingin melihat kehidupan Musa begini. Masalah besar Kitab Keluaran adalah masalah perbudakan. Solusinya adalah kelepasan. Allah memanggil Musa untuk melepaskan bangsa Israel. Dalam penerapannya, sama seperti halnya Kitab Keluaran merupakan ilustrasi tentang kelepasan atau keselamatan, kehidupan Musa adalah salah satu ilustrasi besar tentang bagaimana caranya menjadi seorang pembebas/penyelamat.   
*Kisah Musa
Terlepas dari kuasa dosa adalah pengalaman terbesar yang dapat Anda alami dalam hidup Anda. Pengalaman terbesar kedua adalah menjadi alat dimana melaluinya orang lain dilepaskan. Coba perhatikan tiga periode kehidupan Musa, masing-masingnya selama 40 tahun. Dalam 40 tahun pertama, pelajaran utama yang Allah sampaikan kepada Musa adalah “Musa, engkau bukan siapa-siapa.” Melalui berbagai keadaan yang luar biasa, Musa dibesarkan di istana Firaun (lihat Keluaran 1-2:10). Mungkin karena hal itulah maka Musa sempat menganggap dirinya istimewa. Akan tetapi menjelang Musa berusia 40 tahun, tampaknya Allah berhasil meyakinkan Musa bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa (lihat 2:11-15). Pelajaran kedua yang Allah sampaikan kepada Musa terjadi dalam 40 tahun kedua dalam kehidupannya. Kali ini, pesan Allah adalah, “Musa, engkau bukan sembarang orang sebab Aku telah memilihmu dan Aku menyertaimu.” Di akhir 40 tahun pertama kehidupannya, pada suatu hari Musa menyaksikan penderitaan para budak Ibrani itu, dan menyadari bahwa dirinya sendiri seorang budak Ibrani. Keluaran 2:11 mengatakan: “Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu.” Jelas bahwa Musa berbelas kasih terhadap saudara-saudaranya itu, dan turut merasakan penderitaan mereka.  Di titik itulah, pada prinsipnya Allah menyampaikan kepada Musa, “Bukan demikian caranya menjadi pembebas. Silakan mengikuti “seminari” dulu selama empat puluh tahun, baru merenungkan bagaimana caranya melepaskan bangsa ini dari perbudakan.” Empat puluh tahun kemudian, Musa sedang di padang gurun ketika ia melihat semak menyala. Karena panas yang tinggi di padang gurun, sesungguhnya hal itu bukan kejadian aneh. Biasanya, semak tersebut akan habis termakan api dalam waktu kira-kira lima detik. Akan tetapi kali ini, semak tersebut tidak habis dimakan api, melainkan terus menyala. Maka Musa mencari tahu apa yang terjadi (3:1-3). “Ketika dilihat Tuhan, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: ‘Musa, Musa!’ dan ia menjawab, ‘Ya, Allah.’ Lalu Ia berfirman: ‘Janganlah datang dekat-dekat; tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.’ Lagi Ia berfirman: ‘Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’ Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.” (3:4-6).
Di sini Allah menyampaikan bahwa yang penting bukanlah bahwa Musa telah melihat masalah perbudakan bangsa Israel itu. Yang penting bukanlah belas kasihan Musa atau hasrat Musa untuk melakukan sesuatu tentang perbudakan tersebut. Yang penting adalah bahwa Allahnya Musa telah melihat masalah tersebut dan telah datang untuk melakukan sesuatu tentang masalah tersebut. Oleh karenanya, Allah memerintahkan agar Musa pergi menghadap Firaun dan menuntut kebebasan bagi bangsa Israel. Bayangkan betapa terkejutnya Musa! Ketika Musa tidak berhasil melepaskan bangsa Israel dengan cara membunuh seorang Mesir, Allah menunjukkan kepada Musa bahwa ia bukan siapa-siapa. Di semak yang menyala, Allah berhasil meyakinkan bahwa Musa bukan sembarang orang. Pada dasarnya, kedua pelajaran dasar ini – yaitu bahwa Musa bukan siapa-siapa, dan bahwa Musa bukan sembarang orang ketika Allah menyertainya – menciptakan kerendahan hati Musa. Allah mengajarkan kedua pelajaran tersebut untuk menjadikan Musa sebagai orang yang dipakai untuk pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Sebagian besar orang yang berwenang berupaya untuk memilih orang yang paling memenuhi syarat untuk melaksanakan tugas-tugas penting. Dalam Alkitab, tampaknya seolah-olah Allah justru memilih orang yang paling tidak memenuhi syarat. Kalau kita mau digunakan oleh Allah untuk melepaskan orang lain saat ini, kalau kita ingin melihat teman atau orang yang kita kasihi terlepas dari perbudakan dosa, janganlah kita melupakan bahwa bukan kita yang menjadi pelepas, melainkan Allah sendiri. 
*Pelajaran Bagi Kita
Seseorang yang rendah hati memahami Siapa yang sesungguhnya berkarya. Orang yang rendah hati mengatakan, “Adalah rencana Allah untuk menggunakan kuasa-Nya kepada umat-Nya untuk mencapai maksud-Nya, menurut rencana-Nya.” Dalam Kitab Keluaran, Allah adalah seperti Pokok Anggur, yang mencari ranting-ranting untuk menjadi bagiannya. Allah takkan berkarya tanpa instrumen. Oleh karenanya, Allah harus menemukan Musa-Nya. Akan tetapi begitu Ia memanggil Musa-Nya, Ia harus meyakinkan Musa-Nya itu: “Engkau bukanlah siapa-siapa. Bukan engkau yang akan melakukan hal ini. Setelah engkau memahaminya, barulah engkau dapat menjadi seseorang yang dapat Kugunakan, menjadi seseorang yang melaluinya Aku dapat berkarya dan engkau dapat mengetahui mujizat besar apa yang sanggup Aku lakukan melalui seseorang yang telah menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa.”

Rabu, 27 Januari 2016

Pendalaman Alkitab: Kejadian Berakhir, Keluaran Dimulai


Ketika mempelajari Alkitab, dan terutama Perjanjian Lama, kita perlu memperhatikan perkembangan dari keberadaan orang-orang yang istimewa ini menjadi suatu bangsa. Dalam Kitab Kejadian kita membaca bahwa bangsa ini lahir melalui Abraham. Yakub memberi nama Israel, dan Yusuf menyelamatkan mereka dari kelaparan. Ketika Kitab Kejadian berakhir, bangsa ini baru terdiri dari dua belas keluarga, yang seluruhnya berada di Mesir. Ketika Kitab Keluaran dimulai, kelompok yang belum menjadi sebuah bangsa ini telah berkembang dari hanya 12 suku menjadi sangat banyak. Sebelum dapat menjadi sebuah bangsa, mereka membutuhkan seorang pemimpin. Kitab Keluaran akan menceritakan salah seorang pemimpin terbesar dalam keseluruhan sejarah umat Allah, yaitu Musa. Salah satu masalah besar yang Musa hadapi dalam memimpin para budak ini adalah bahwa ketika itu belum ada hukum, belum ada aturan, dan belum ada struktur untuk memerintah mereka. Dan oleh karenanya, dalam Kitab Keluaran kita akan melihat seperangkat aturan pertama yang diberikan Allah kepada manusia berupa ratusan perintah yang dirangkum dalam Sepuluh Perintah Allah. Musa menghadapi masalah lain: ia mempunyai bangsa yang tepat, namun mereka berada di tempat yang salah. Mereka berada di Mesir, di bawah perbudakan, dan Allah menghendaki mereka bebas. Kata Keluaran sesungguhnya berarti “jalan ke luar.” Dan sebagian besar Kitab ini menceritakan kisah tentang bangsa Israel menemukan “jalan ke luar” dari perbudakan.
Selain kitab sejarah, Kitab Keluaran juga memberi kita kiasan. Bangsa Israel secara harafiah hidup di bawah perbudakan, dan tanpa Kristus, secara kiasan kita juga berada di bawah perbudakan dosa. Kitab Keluaran membahas masalah mengeluarkan bangsa Israel dari perbudakan fisik mereka; keseluruhan Alkitab berhadapan dengan masalah untuk mengeluarkan setiap orang dari perbudakan rohani mereka terhadap dosa. Apakah Anda sudah dibebaskan dari perbudakan dosa yang telah disediakan Allah bagi Anda? Dalam beberapa bab mendatang kita akan melanjutkan studi kita tentang Kitab Keluaran. Silakan Anda mulai membacanya, sambil mengajukan tiga pertanyaan penting: Apa yang dikatakan Kitab ini? Apa maksudnya? Dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan saya?

Pendalaman Alkitab: Kejadian - Allah yang Memegang Kendali




Kita telah mempelajari kisah tentang Abraham, yang mengajarkan tentang iman. Tentang Yakub, yang menunjukkan kasih karunia Allah. Dan sekarang kita sampai kepada kisah tentang Yusuf, yang mengisi 14 pasal terakhir Kitab Kejadian. Tampaknya Yusuf adalah salah satu tokoh paling suci dalam Kitab Suci. Pada tokoh-tokoh lainnya dalam Alkitab, Allah menunjukkan kekuatan maupun kelemahan mereka, namun Yusuf adalah salah satu pengecualian (begitu juga Daniel, yang akan kita pelajari kisahnya nanti). 
Kisah Yusuf  Kisah Yusuf sesungguhnya adalah tentang pemeliharaan Allah. Pesan kisah ini terangkum dalam satu ayat dalam Perjanjian Baru, yaitu Roma 8:28: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Dapat dimaklumi bahwa saudarasaudara Yusuf gelisah ketika menyadari siapa Yusuf itu, namun Yusuf menanggapi mereka dengan kata-kata yang menghibur, kata-kata yang meyakinkan kita tentang karya Allah di balik layar kehidupan kita masing-masing: “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu … Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah.” (Kejadian 45:5, 7-8). Dalam kisah tentang Yakub, ayah Yusuf, kita melihat seorang pria yang kehidupannya berjalan dengan baik, namun bukan karena upayanya sendiri karena sesungguhnya, Allahlah yang senantiasa memegang kendali. Kisah tentang Yusuf mengilustrasikan kebenaran yang sama, namun dari sudut yang lain. Dalam kisah tentang Yusuf, kita melihat seseorang yang kehidupannya sempat berjalan tidak terlalu baik. Ia dijual menjadi budak oleh saudara-saudaranya; ia dituduh secara tidak adil; ia dilupakan oleh mereka yang telah berjanji akan menolongnya. Akan tetapi tidak satu pun keadaan tersebut terjadi akibat ulah Yusuf sendiri. Yusuf mengalami berbagai masalah dan keadaan sulit bukan karena dia pantas mengalaminya, melainkan agar Allah dipermuliakan dan agar rencana Allah terlaksana.
Penerapannya untuk Sekarang Kisah tentang Yusuf memberikan beberapa penerapan bagi kehidupan kita sekarang. Pertama, coba Anda renungkan hubungan Yusuf dengan ayah serta saudara-saudaranya. Sungguh jauh dari yang kita sebut keluarga teladan! Yang jelas Yakub bukan ayah yang ideal. Sikapnya yang pilih kasih terhadap Yusuf justru mengakibatkan Yusuf hidup lebih menderita daripada hidup senang – dan yang jelas, sikap pilih kasih itu tidak adil bagi saudara-saudara Yusuf. Akan tetapi, siapakah yang mempunyai orangtua yang sempurna? Berapa banyak orang yang mempunyai hubungan yang sempurna dengan saudara sekandungnya? Bukan kita yang memilih keluarga yang membesarkan kita, namun begitu para anggota keluarga kita ikut membentuk kehidupan kita. Banyak di antara kita yang mengalami kepedihan hati atau kesusahan dalam kehidupannya karena hubungan-hubungan tersebut. Akan tetapi pesan dari kisah Yusuf ini adalah bahwa Allah berdaulat atas setiap keadaan dalam kehidupan kita, dan tidak ada situasi yang sedemikian buruknya dimana Allah tidak sanggup menyelamatkan dan mendatangkan kebaikan darinya. Allah sanggup menggunakan pengaruh orangtua Anda seandainya pun mereka bukan orang baikbaik. Allah sanggup menggunakan pengaruh saudarasaudari Anda seandainya pun mereka bukan orang baik-baik. Allah memakai kesusahan yang terjadi di dalam keluarga Yusuf yang kacau ini untuk menempatkan Yusuf di Mesir dan menyelamatkan keluarga pilihan itu dari kelaparan, sebab melalui keluarga itulah sang Mesias datang ke dunia. Allah sanggup menggunakan respons Anda terhadap kesusahan yang disebabkan oleh keluarga yang tidak berfungsi dengan baik untuk membentuk kehidupan Anda. Suatu hari kelak Anda akan melihat betapa Allah turut berkarya dalam segala keadaan Anda untuk mempersiapkan Anda memainkan peran yang disediakan-Nya bagi Anda.   
Ketika mempelajari Alkitab, dan terutama Perjanjian Lama, kita perlu memperhatikan perkembangan dari keberadaan orang-orang yang istimewa ini menjadi suatu bangsa. Dalam Kitab Kejadian kita membaca bahwa bangsa ini lahir melalui Abraham. Yakub memberi nama Israel, dan Yusuf menyelamatkan mereka dari kelaparan. Ketika Kitab Kejadian berakhir, bangsa ini baru terdiri dari dua belas keluarga, yang seluruhnya berada di Mesir. Ketika Kitab Keluaran dimulai, kelompok yang belum menjadi sebuah bangsa ini telah berkembang dari hanya 12 suku menjadi sangat banyak. Sebelum dapat menjadi sebuah bangsa, mereka membutuhkan seorang pemimpin. Kitab Keluaran akan menceritakan salah seorang pemimpin terbesar dalam keseluruhan sejarah umat Allah, yaitu Musa. Salah satu masalah besar yang Musa hadapi dalam memimpin para budak ini adalah bahwa ketika itu belum ada hukum, belum ada aturan, dan belum ada struktur untuk memerintah mereka. Dan oleh karenanya, dalam Kitab Keluaran kita akan melihat seperangkat aturan pertama yang diberikan Allah kepada manusia berupa ratusan perintah yang dirangkum dalam Sepuluh Perintah Allah. Musa menghadapi masalah lain: ia mempunyai bangsa yang tepat, namun mereka berada di tempat yang salah. Mereka berada di Mesir, di bawah perbudakan, dan Allah menghendaki mereka bebas. Kata Keluaran sesungguhnya berarti “jalan ke luar.” Dan sebagian besar Kitab ini menceritakan kisah tentang bangsa Israel menemukan “jalan ke luar” dari perbudakan.
Selain kitab sejarah, Kitab Keluaran juga memberi kita kiasan. Bangsa Israel secara harafiah hidup di bawah perbudakan, dan tanpa Kristus, secara kiasan kita juga berada di bawah perbudakan dosa. Kitab Keluaran membahas masalah mengeluarkan bangsa Israel dari perbudakan fisik mereka; keseluruhan Alkitab berhadapan dengan masalah untuk mengeluarkan setiap orang dari perbudakan rohani mereka terhadap dosa. Apakah Anda sudah dibebaskan dari perbudakan dosa yang telah disediakan Allah bagi Anda? Dalam beberapa bab mendatang kita akan melanjutkan studi kita tentang Kitab Keluaran. Silakan Anda mulai membacanya, sambil mengajukan tiga pertanyaan penting: Apa yang dikatakan Kitab ini? Apa maksudnya? Dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan saya?         

Pendalaman Alkitab: Kejadian - Siapakah Engkau?


Kisah Yakub adalah kisah yang menakjubkan. Nama Yakub berarti “Penyambar” sebab ketika ia lahir dengan saudara kembarnya, ia sedang memegangi tumit kakaknya itu. Ternyata Yakub hidup sesuai dengan namanya itu. Ada dua hal yang layak dimiliki dalam keluarganya dan Yakub menyambar kedua-duanya. Hak kesulungan adalah warisan yang jatuh ke tangan putra sulung, dan berkat adalah janji yang Allah berikan kepada Abraham yang diteruskan kepada Ishak dan akan diteruskan kepada putra sulung. Esau, kakak Yakub, menjual hak kesulungannya kepada Yakub demi semangkuk sup dan Yakub memperdayai ayahnya dan mencuri berkat dari kakaknya. Setelah Yakub memperdayai ayahnya dan menyambar hak kesulungan dan berkat tersebut, ibunya datang kepadanya dan mengatakan, “Engkau harus pergi, Yakub, sebab kakakmu mau membunuhmu. Pergilah menetap pada Laban, saudara ibu, selama beberapa lama hingga kakakmu tenang.” (lihat 27:42-43). Pada malam pertama Yakub meninggalkan rumahnya, ia bermimpi. Di dalam mimpinya, Yakub melihat sebuah tangga melalui mana para malaikat turun naik ke langit. Dalam mimpinya Yakub melihat Allah menampakkan diri kepadanya dan menegaskan kembali janji-Nya kepada Abraham, yaitu kakek Yakub. Allah berjanji akan menjadikan Yakub bagian dari rencana-Nya, sambil menambahkan, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang telah Kujanjikan kepadamu.”  (28:15). Yakub terjaga dari mimpinya dengan penuh rasa takjub. “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” (ayat 16). Dan sebelum melanjutkan perjalanannya, Yakub mengambil batu yang telah digunakannya sebagai bantal dan mengurapinya dengan minyak, bersumpah akan mengembalikan sepersepuluh dari segala yang Allah berikan kepadanya (18-22). 
Pergumulan Yakub Yang terjadi berikutnya adalah bagian utama kisah tentang Yakub. Setelah dua puluh tahun bekerja keras bagi pamannya, Laban, Yakub mendapatkan pengalaman rohani yang sangat pribadi dengan Allah. Pengalaman tersebut digambarkan dalam Kejadian 32, di mana kita membaca: “Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang itu: ‘Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.’ Sahut Yakub: ‘Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.’ Bertanyalah orang itu kepadanya: ‘Siapakah namamu?’ Sahutnya: ‘Yakub.’ Lalu kata orang itu: ‘Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.’ Bertanyalah Yakub: ‘Katakanlah juga namamu.’ Tetapi sahutnya: ‘Mengapa engkau menanyakan namaku?’ Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: ‘Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!’ (24-30). Tolong Anda memperhatikan pertanyaan Allah kepada Yakub: “Siapakah namamu?” Di zaman Alkitab, nama mempunyai makna, seperti yang telah kita temukan. Nama menjelaskan sesuatu tentang orang yang bersangkutan, nama menjelaskan identitas orang yang bersangkutan. Dengan pertanyaan tersebut, Allah bukanlah menanyakan nama Yakub. Melainkan, “Siapakah engkau?” Dan tentu, hal itu bukan karena Allah perlu mengetahui jawabannya, melainkan karena Allah mau Yakub sendiri mengetahui jawabannya. Nama Yakub, seperti yang telah kita lihat, berarti “Penyambar.” Akan tetapi nama barunya, yaitu Israel, nama yang akan diemban seluruh keturunannya, berarti “Pejuang.” Ada satu hal penting lagi dalam kisah ini yang jangan sampai kita lewatkan. Saya menyebutnya “Berkat Mahkota Lumpuh.” Karena Yakub demikian nakal, Allah tidak bisa memberkatinya sampai Ia mematahkan kakinya. Terkadang Allah tidak bisa menembus kita dengan cara lain lagi, dan oleh karenanya Allah terpaksa melumpuhkan kita entah dalam hal apa, memaksa kita untuk mengandalkan Dia. Demikianlah yang terjadi pada Yakub. Dan pada akhirnya, Yakub menangkap pesan Allah. Ketika pada akhirnya ia berjumpa dengan Esau – dimana ia tidak menghajarnya melainkan merangkul dan mengecupnya – Yakub memberitahu Esau bahwa ia memiliki banyak istri, anak, dan ternak karena “Allah telah memberi karunia kepadaku.” (33:11). Bukan karena Yakub menyambarnya, melainkan berkat kasih karunia Allah. Kasih karunia adalah ciri Allah di mana Ia melimpahkan berkat-Nya kepada kita, padahal kita tidak pantas mendapatkannya. Belas kasihan Allah menahan apa yang sesungguhnya pantas kita dapatkan dari Allah. Allah juga mengajari kita untuk tunduk kepada-Nya. Terkadang Allah memilih melakukan hal itu dengan cara mematahkan kita, sehingga Ia dapat memberkati kita. Kita sungguh perlu memandang ke tiga tempat untuk mengetahui Allah menghendaki kita menjadi siapa. Pertama, kita perlu memandang ke atas. Dalam seluruh kisah Alkitab yang akan kita pelajari, kita akan melihat bahwa sering kali Allah membutuhkan waktu yang lama untuk membuat orang “memandang ke atas.” Akan tetapi memandang kepada Allah adalah suatu keharusan kalau kita mau mencari tahu Allah menghendaki kita menjadi siapa. Sebab Allahlah yang menciptakan kita. Dialah yang memegang rancangan bagi kehidupan kita. Berikutnya, kita perlu memandang ke dalam hati kita. Dalam Mazmur 139, Daud berdoa, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiranpikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (23-24). Kita semua perlu memohon agar Allah menyertai kita untuk menyelidiki hati dan kehidupan kita serta menuntun kita menjadi seperti yang Ia kehendaki. Pada akhirnya, kita perlu memandang ke sekeliling kita. Orang yang telah memandang ke atas dan telah benar-benar memandang ke dalam hatinya, sekarang telah siap memandang ke sekelilingnya dan berhubungan dengan sesama serta menjadi bagian dari rencana Allah bagi dunia. Apakah Anda pernah benar-benar memandang kepada Allah, untuk memahami apa yang Ia katakan tentang identitas Anda di dalam Dia? Seberapa sering Anda memandang ke dalam untuk melihat kondisi hati Anda? Apakah Anda memandang ke sekeliling untuk melihat bagaimana Allah menghendaki Anda berinteraksi dengan orang-orang dalam kehidupan Anda?

Jumat, 22 Januari 2016

Pendalaman Alkitab: Kejadian - Bapa Iman


Sekarang kita sampai ke bagian terbesar dari Kitab Kejadian, yang ada hubungannya dengan tiga tokoh terkenal dalam Alkitab: Abraham, Yakub dan Yusuf. Ingatlah, banyaknya tempat yang diberikan bagi sebuah subjek menjelaskan sesuatu betapa pentingnya subjek tersebut. Iman, adalah tema dari kisah Abraham dalam kitab Kejadian. Saat kita mempelajari beberapa pasal berikutnya, Allah menghendaki kita memahami iman pada mulanya dan iman pada waktu sekarang. Ibrani 11, yang dikenal sebagai Pasal Iman dalam Alkitab, mengatakan begini: “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (ayat 6). Karena iman demikian penting dan Allah menghendaki kita memahami iman, maka Allah menceritakan tentang seseorang bernama Abraham. Dibandingkan dengan tokoh lain dalam Alkitab, Abraham inilah yang paling banyak disebut dalam Perjanjian Baru, dan selalu dalam hubungannya dengan iman. Kalau Anda ingin memahami iman, Anda perlu memahami Abraham. 
*Namanya
Pria ini adalah definisi iman yang hidup. Ketika pertama kali berjumpa dengannya di akhir Kejadian 11, namanya Abram, yang artinya “bapa banyak anak.” Sungguh nama yang ironis bagi pria tak beranak yang sudah berusia 75 tahun! Akan tetapi, Allah memberitahu Abram: “Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga.” (13:16). Dan dari ketaatan Abram yang setia terhadap setiap petunjuk Allah, kita dapat menduga bahwa Abram mempercayai Allah dalam hal itu – setidaknya lebih sering mempercayai-Nya. (lihat Kejadian 16). 
*Mezbah-mezbahnya
Biasanya kita membayangkan diri dipanggil ke suatu ladang misi atau ke sebuah gereja atau ke sebuah organisasi. Akan tetapi, apakah pernah terpikirkan, bahwa kita dipanggil hanya kepada Allah? Bagaimana seandainya Allah meminta Anda menuju ke padang belantara yang tidak berpopulasi, tanpa menjelaskan alasan-Nya? Itulah yang terjadi kepada Abraham ketika ia sudah berusia 75 tahun (lihat 12:1-4). Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan ayahnya, negri asalnya, dan seluruh sanak saudaranya, menuju ke padang belantara. Seperti halnya dengan kisah lain, ada dua sisi dalam kisah ini: sisi Allah dan sisi manusia. Untuk melihat sisi Allah, silakan mempelajari penampakan diri Allah kepada Abraham. Allah menampakkan diri-Nya kepada Abraham sebanyak delapan kali. Allahlah yang menginisiatifkan hubungan dengan Abraham, dan demikian pula dengan hubungan setiap manusia dengan Allah. Dalam Roma 3:11, Paulus menjelaskan bahwa tidak ada manusia yang mencari Allah. Allahlah yang mencari manusia. Kalau seseorang tampak seolah-olah mencari Allah, ia hanya menanggapi inisiatif Allah mencarinya. Allahlah yang selalu menginisiatifkan hubungan. Sisi manusia atau respons Abraham terhadap Allah, tampak dalam bentuk keempat mezbah yang dibangunnya. Mezbah pertamanya dibangun di dataran More, di mana Allah menampakkan diri kepadanya dan mengatakan, “Aku akan memberikan negri ini kepada keturunanmu.” (12:7). Kata More secara harafiah berarti “mengajar atau mencari.” Saya menyebut mezbah Abraham yang pertama ini “Mezbah Respons” karena dibangun sebagai respons kepada Allah yang memanggilnya ke padang belantara. Mezbah Abraham yang kedua dibangun di antara Ai dengan Betel. Dalam bahasa Ibrani, Betel artinya “rumah Allah.” Karena Allah tidak mempunyai rumah pada titik tersebut, kata ini tampaknya berarti “tempat di mana Allah berada.” Ai artinya, “Reruntuhan, kesengsaraan, lubang.” Roma 6:23 mengatakan: “Upah dosa adalah maut,” dan Ai mewakili maut. Di sebelah timur Ai terletak Sodom dan Gomora. Pada mezbahnya yang pertama, Abram mengatakan, “Ajarilah aku.” Pada mezbah yang kedua, dilihat dari letaknya, Abram mau menunjukkan bahwa ia belum memutuskan bagaimana responsnya terhadap apa yang sedang Allah ajarkan kepadanya. Abram meninggalkan mezbah yang kedua ini, baik secara geografis maupun secara rohani, lalu pergi ke selatan. Abram menyuruh istrinya mengaku bahwa dirinya saudara perempuan Abram supaya orang Mesir takkan membunuh Abram demi mengambil istrinya. Abram mengalami banyak masalah dan tampaknya “gagal” secara rohani. Setelah insiden tersebut, Abraham kembali ke lokasi mezbah keduanya dan berseru kepada Allah. Setelah ibadah yang tulus itu, Abraham menyarankan kepada Lot agar mereka berpisah. Kitab Suci tidak menjelaskan apa yang mereka bicarakan, namun tampaknya Allah menunjukkan kepada Abraham bahwa seharusnya Abraham tidak mengajak Lot sedari mulanya. Dan karena kemudian kita melihat Lot menetap di Sodom dan Gomora, kita baru mengerti alasannya. Lot pergi ke timur; Abraham pergi ke barat dan membangun mezbahnya yang ketiga di sebuah tempat bernama Hebron. Kata Hebron berarti “persekutuan.” Menurut saya nama ini pun bersifat simbolis. Di mana mezbah yang pertama mengatakan, “Ajarilah aku,” mezbah kedua mengatakan, “Aku tidak tahu pasti,” atau “Aku masih ragu,” mezbah ketiga mengindikasikan, “Ya Allah, aku ingin mengenal-Mu.” Saya menyebut mezbah ketiga ini “Mezbah Hubungan.” Dalam dua pasal pertama dari kisah Abraham, yaitu Kejadian 12 dan 13, Abraham membangun tiga mezbah. Abraham tidak membangun mezbah lagi hingga Kejadian 22. Apa yang terjadi antara mezbah yang ketiga dengan yang keempat? Ketika Abraham mengatakan, “Ya Allah, aku ingin mengenal-Mu,” menurut saya Allah menjawab, “Abraham, kalau engkau mau menjalin hubungan dengan-Ku, ketahuilah sesuatu. Kalau Aku berarti sesuatu, Aku adalah segalanya. Sebab, sampai engkau memandang-Ku sebagai segalanya, engkau belum melihat-Ku sebagai apa pun.” Dan kehidupan Abraham penuh dengan hal-hal lain yang belum mau dilepaskannya. Dalam Kejadian 16 kita melihat Abraham dan Sara menjadi prihatin bagaimana Allah akan memenuhi janjiNya untuk memberikan keturunan – maka mereka memutuskan untuk menolong-Nya. Atas saran istrinya, Abraham berhubungan dengan Hagar, hamba istrinya dari Mesir (ayat 1-4). Anak yang dihasilkannya adalah Ismael, yang menjadi bapa bangsa Arab. Tidak akan ada krisis Timur Tengah sekarang ini seandainya Abraham tidak memutuskan untuk menolong Allah.
Saya percaya bahwa Sara mewakili satu lagi masalah dalam hubungan Abraham dengan Allah. Mezbah ketiga, yaitu Mezbah Hubungan, mewakili hubungan vertikal dan hubungan horizontal. Keduanya tak terpisahkan. Untuk mengenal Allah, Allah harus diberikan tempat yang menjadi hak-Nya dalam segala hubungan Abraham. Allah harus berbicara kepada Abraham tentang Lot dan mengeluarkan Lot dari kehidupan Abraham. Lot mewakili orang-orang dalam kehidupan kita yang tidak Allah kehendaki dalam kehidupan kita. Allah juga harus mengeluarkan Ismael dari kehidupan Abraham. Ismael mewakili faktor iman yaitu bahwa musuh terbesar dari berkat terbaik dari Allah adalah sesuatu yang baik. Allah menampakkan diri kepada Abraham dan menyuruhnya mengusir Ismael. Satu per satu, Allah menyingkirkan semua orang yang berebut tempat pertama dalam kehidupan Abraham. Sara masalah lain. Sara adalah gambaran orang yang memang ditempatkan Allah dalam kehidupan kita, namun yang tidak kita sadari sebagai karunia Allah. Allah harus dua kali menampakkan diri kepada Abraham tentang Sara. Kedua kalinya, Allah mengatakan, “Tentang istrimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki.” (17:15-16). Ketika Abraham mendengarnya, ia tertunduk dan tertawa! Ketika Sara mendengar kabar tersebut, ia juga tertawa! Setahun kemudian, lahirlah seorang anak bagi Abraham dan Sara, dan Allah menyuruh mereka menamainya Ishak, yang dalam bahasa Ibrani berarti “tawa.” Allah tidak pernah menghendaki “pahlawanpahlawan iman” ini melupakan bahwa mereka menertawakan-Nya ketika Ia memberitahukan apa yang akan Ia lakukan. Pada akhirnya, ketika Ishak masih muda, Abraham membangun mezbah keempat, dan inilah mezbah yang terpenting. Mezbah ini dibangun di gunung Moria. Moria artinya “Yehovah akan menyediakan.” Sebelumnya, Abrahamlah yang memilih lokasi mezbahnya. Akan tetapi mezbah keempat ini lain. Kali ini, Allahlah yang memilih lokasinya. Dan kali ini, Allahlah yang meminta persembahannya – yaitu Ishak. Ishak bukan saja putra satu-satunya Abraham dan Sara setelah mereka tua, melainkan juga penggenapan iman selama dua puluh lima tahun. Dan sekarang, bertentangan dengan nalar, Allah mengatakan, “Aku menginginkan Ishak.” Dan Abraham membawa Ishak dengan maksud memenuhi permintaan Allah. Akan tetapi pada menit-menit terakhir, setelah Abraham membuktikan ketaatannya, Allah menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti nyawa Ishak (lihat 22:1-19). Abraham menyebut tempat itu Yehovah-Jireh, yang berarti “Yehovah akan menyediakan.” Melalui mezbah-mezbah Abraham terdapat kiasan iman, bahwa pada gunung pilihan Allah, pada mezbah dimana “Allah yang diutamakan,” Allah menyediakan buah dari iman selama dua puluh lima tahun. Abraham bukan mempersembahkan Ishak pada mezbah keempat ini. Pada mezbah dimana “Allah yang diutamakan” ini Abraham mempersembahkan dirinya. Pesan Alkitab ialah “Allah yang utama”. Hal itu tidak mudah, namun juga tidak rumit. Entah apakah Allah itu Allah Anda, atau bukan. Pada akhirnya, bagi Abraham, Allah adalah Allahnya.

Pendalaman Alkitab: Kejadian - Di Manakah Saudaramu?


Salah satu pesan utama Alkitab adalah kebutuhan manusia untuk berdamai dengan Allah. Dan Allah langsung memungkinkan perdamaian begitu dosa pertama dilakukan. Dalam Kejadian 3:15, kita membaca nubuat pertama tentang sang Mesias ketika Allah berfirman kepada sang ular: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”   Memahami bahwa sang ular mewakili Iblis, demikianlah petunjuk pertama bahwa Allah akan mendatangkan Satu Pribadi ke dunia ini yang akan meluruskan segalanya. Demikianlah nubuat konsekuensi dosa Adam dan Hawa.  Sungguh banyak konsekuensi negatifnya! Pertama, manusia terpisah dari Allah. Lalu dalam pasal 4 kita membaca tentang konsekuensi lain dari kejatuhan manusia ke dalam dosa – konflik. Allah menjelaskan konflik pada mulanya agar kita dapat memahami konflik pada waktu sekarang. Kita memiliki konflik dengan diri sendiri, dengan pasangan kita, dengan anak-anak kita, dengan orangtua kita. Kita memiliki konflik di tempat kerja. Dan tentunya, kita memiliki konflik di antara bangsa-bangsa. Konflik adalah salah satu masalah terbesar kita. Dalam Kejadian 4, kita akan menemukan beberapa penyebab utama konflik dan beberapa solusi yang dapat memecahkan konflik. Kitab Kejadian memberi kita informasi dalam bentuk kisah tentang kakak beradik.   Namanya sangat tidak asing: Kain dan Habel. Alkisah, Kain memberikan persembahan kepada Allah. Karena Kain seorang pengolah tanah, seorang petani, ia membawakan hasil bumi sebagai persembahan. Adiknya, Habel, adalah seorang gembala, maka ia membawakan domba sebagai persembahan. Persembahan Habel diterima, sedangkan persembahan Kain tidak diterima.   Banyak orang keliru menganggap bahwa persembahan Habel diterima karena berbentuk hewan korban. Padahal tidak ada ayat yang menyebutkan demikian. Persembahan Habel diterima sebab dirinya sendiri diterima. Persembahan Kain tidak diterima sebab dirinya sendiri tidak diterima (ayat 6-7).   Ketika membaca kisah tentang Kain dan Habel, kita cenderung mengasumsikan apa yang tidak tertulis. Padahal Kain tidak diperintahkan untuk membawakan hewan korban sebagai persembahan. Bahkan dalam Kitab Imamat, bangsa Israel pada waktu itu diperintahkan untuk membawakan persembahan berupa gandum dan hasil bumi, tergantung pada apa yang mereka hasilkan. Jadi yang menjadi masalah bukanlah jenis persembahannya, melainkan orangnya. Kain sendiri tidak berkenan kepada Tuhan, dan ketika ia mengetahui hal itu, ia menjadi marah dan depresi.   Sama seperti kepada orangtua Kain, Allah pun bertanya kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?” (ayat 6). Tentu, Allah sudah mengetahui jawabannya. Akan tetapi tampaknya hati Kain yang keras kepala tidak juga menangkap pesan Allah, maka Allah melanjutkan, “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Tragisnya, Kain tidak menguasai dosanya. Dalam ayat 8 kita diberitahu bahwa ia membunuh adiknya.   Sekali lagi, Allah bertanya: “Di mana Habel, adikmu itu?” Apakah yang telah kauperbuat ini?” Akan tetapi Kain, masih juga keras kepala, tidak mau mengakui dosanya hingga Allah menyatakan dengan jelas bahwa Ia sudah mengetahui segala yang terjadi (ayat 9-10).   Dalam Kejadian 3, pertanyaannya adalah: “Di manakah engkau?” Dalam Kejadian 4, pertanyaannya adalah, “Di manakah adikmu?” Allah berusaha membuat Kain menyadari apa yang sesungguhnya terjadi – bahwa ia telah melampiaskan amarahnya terhadap pihak yang tidak bersalah, dan bahwa sesungguhnya ia masih juga marah. Perbuatannya membunuh adiknya itu tidak memecahkan masalahnya, malah memperparah masalahnya.  Kunci keseluruhan kisah ini adalah ayat 7 yang menyatakan inti masalah konfliknya sekaligus solusinya: “Jika engkau melakukan kebenaran, engkau akan diterima oleh Allah, oleh dirimu sendiri, dan engkau takkan perlu membunuh Orang yang Aku Terima.” Dalam Khotbah-Nya di Bukit, tepatnya dalam Matius 7:1-5, Yesus memberikan perumpamaan yang mirip dengan kisah tentang Kain dan Habel. Yesus menanyakan kepada orang-orang munafik: mengapa mereka demikian mengritik, dan mana mungkin mereka berhasil dengan sikap yang demikian mengritik? Yesus menggunakan sebuah ilustrasi yang tidak biasa yaitu bahwa mereka adalah ibarat orang yang merasa terpanggil untuk menunjukkan selumbar di mata orang lain, padahal ada balok di dalam mata mereka sendiri yang tidak mereka sadari.    Banyak orang menganggap bahwa pesan Yesus adalah agar kita tidak menghakimi orang lain. Padahal yang ingin Yesus sampaikan adalah persis seperti yang Allah ingin ajarkan kepada Kain: “Engkau keliru memandang persoalan. Berhenti memusingkan adikmu dan sebaliknya, introspeksilah dirimu sendiri.”
Untungnya, kematian Habel tidak menjadi kematian dari kebaikan. Dua generasi berikutnya, dalam Kejadian 4:26, kita melihat kejadian pertama di mana manusia menginisiatifkan persekutuan dengan Allah lewat doa. Hingga saat itu, segala komunikasi di antara Allah dengan manusia adalah atas inisiatif Allah.   Kita semua terkadang menghadapi konflik. Terkadang bukan kita sumbernya, terkadang bersumber dari kita. Akan tetapi, setiap kali Anda menemukan diri Anda terlibat dalam sebuah konflik, cobalah mengendalikan perasaan Anda lalu tanyakan kepada diri sendiri, apa sesungguhnya masalah Anda. Lalu, seperti yang disarankan Kejadian 4:7, lakukanlah kebenaran, jadilah berkenan di mata Allah maupun diri sendiri sehingga Anda tidak perlu memukuli orang-orang yang tidak bersalah sampai mati.   
Sekarang kita sampai ke bagian terbesar dari Kitab Kejadian, yang ada hubungannya dengan tiga tokoh terkenal dalam Alkitab: Abraham, Yakub dan Yusuf. Ingatlah, banyaknya tempat yang diberikan bagi sebuah subjek menjelaskan sesuatu betapa pentingnya subjek tersebut. Iman, adalah tema dari kisah Abraham dalam kitab Kejadian. Saat kita mempelajari beberapa pasal berikutnya, Allah menghendaki kita memahami iman pada mulanya dan iman pada waktu sekarang. Ibrani 11, yang dikenal sebagai Pasal Iman dalam Alkitab, mengatakan begini: “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (ayat 6). Karena iman demikian penting dan Allah menghendaki kita memahami iman, maka Allah menceritakan tentang seseorang bernama Abraham. Dibandingkan dengan tokoh lain dalam Alkitab, Abraham inilah yang paling banyak disebut dalam Perjanjian Baru, dan selalu dalam hubungannya dengan iman. Kalau Anda ingin memahami iman, Anda perlu memahami Abraham. 
Namanya Pria ini adalah definisi iman yang hidup. Ketika pertama kali berjumpa dengannya di akhir Kejadian 11, namanya Abram, yang artinya “bapa banyak anak.” Sungguh nama yang ironis bagi pria tak beranak yang sudah berusia 75 tahun! Akan tetapi, Allah memberitahu Abram: “Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga.” (13:16). Dan dari ketaatan Abram yang setia terhadap setiap petunjuk Allah, kita dapat menduga bahwa Abram mempercayai Allah dalam hal itu – setidaknya lebih sering mempercayai-Nya. (lihat Kejadian 16). 
Mezbah-mezbahnya Biasanya kita membayangkan diri dipanggil ke suatu ladang misi atau ke sebuah gereja atau ke sebuah organisasi. Akan tetapi, apakah pernah terpikirkan, bahwa kita dipanggil hanya kepada Allah? Bagaimana seandainya Allah meminta Anda menuju ke padang belantara yang tidak berpopulasi, tanpa menjelaskan alasan-Nya? Itulah yang terjadi kepada Abraham ketika ia sudah berusia 75 tahun (lihat 12:1-4). Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan ayahnya, negri asalnya, dan seluruh sanak saudaranya, menuju ke padang belantara. Seperti halnya dengan kisah lain, ada dua sisi dalam kisah ini: sisi Allah dan sisi manusia. Untuk melihat sisi Allah, silakan mempelajari penampakan diri Allah kepada Abraham. Allah menampakkan diri-Nya kepada Abraham sebanyak delapan kali. Allahlah yang menginisiatifkan hubungan dengan Abraham, dan demikian pula dengan hubungan setiap manusia dengan Allah. Dalam Roma 3:11, Paulus menjelaskan bahwa tidak ada manusia yang mencari Allah. Allahlah yang mencari manusia. Kalau seseorang tampak seolah-olah mencari Allah, ia hanya menanggapi inisiatif Allah mencarinya. Allahlah yang selalu menginisiatifkan hubungan. Sisi manusia atau respons Abraham terhadap Allah, tampak dalam bentuk keempat mezbah yang dibangunnya. Mezbah pertamanya dibangun di dataran More, di mana Allah menampakkan diri kepadanya dan mengatakan, “Aku akan memberikan negri ini kepada keturunanmu.” (12:7). Kata More secara harafiah berarti “mengajar atau mencari.” Saya menyebut mezbah Abraham yang pertama ini “Mezbah Respons” karena dibangun sebagai respons kepada Allah yang memanggilnya ke padang belantara. Mezbah Abraham yang kedua dibangun di antara Ai dengan Betel. Dalam bahasa Ibrani, Betel artinya “rumah Allah.” Karena Allah tidak mempunyai rumah pada titik tersebut, kata ini tampaknya berarti “tempat di mana Allah berada.” Ai artinya, “Reruntuhan, kesengsaraan, lubang.” Roma 6:23 mengatakan: “Upah dosa adalah maut,” dan Ai mewakili maut. Di sebelah timur Ai terletak Sodom dan Gomora. Pada mezbahnya yang pertama, Abram mengatakan, “Ajarilah aku.” Pada mezbah yang kedua, dilihat dari letaknya, Abram mau menunjukkan bahwa ia belum memutuskan bagaimana responsnya terhadap apa yang sedang Allah ajarkan kepadanya. Abram meninggalkan mezbah yang kedua ini, baik secara geografis maupun secara rohani, lalu pergi ke selatan. Abram menyuruh istrinya mengaku bahwa dirinya saudara perempuan Abram supaya orang Mesir takkan membunuh Abram demi mengambil istrinya. Abram mengalami banyak masalah dan tampaknya “gagal” secara rohani. Setelah insiden tersebut, Abraham kembali ke lokasi mezbah keduanya dan berseru kepada Allah. Setelah ibadah yang tulus itu, Abraham menyarankan kepada Lot agar mereka berpisah. Kitab Suci tidak menjelaskan apa yang mereka bicarakan, namun tampaknya Allah menunjukkan kepada Abraham bahwa seharusnya Abraham tidak mengajak Lot sedari mulanya. Dan karena kemudian kita melihat Lot menetap di Sodom dan Gomora, kita baru mengerti alasannya. Lot pergi ke timur; Abraham pergi ke barat dan membangun mezbahnya yang ketiga di sebuah tempat bernama Hebron. Kata Hebron berarti “persekutuan.” Menurut saya nama ini pun bersifat simbolis. Di mana mezbah yang pertama mengatakan, “Ajarilah aku,” mezbah kedua mengatakan, “Aku tidak tahu pasti,” atau “Aku masih ragu,” mezbah ketiga mengindikasikan, “Ya Allah, aku ingin mengenal-Mu.” Saya menyebut mezbah ketiga ini “Mezbah Hubungan.” Dalam dua pasal pertama dari kisah Abraham, yaitu Kejadian 12 dan 13, Abraham membangun tiga mezbah. Abraham tidak membangun mezbah lagi hingga Kejadian 22. Apa yang terjadi antara mezbah yang ketiga dengan yang keempat? Ketika Abraham mengatakan, “Ya Allah, aku ingin mengenal-Mu,” menurut saya Allah menjawab, “Abraham, kalau engkau mau menjalin hubungan dengan-Ku, ketahuilah sesuatu. Kalau Aku berarti sesuatu, Aku adalah segalanya. Sebab, sampai engkau memandang-Ku sebagai segalanya, engkau belum melihat-Ku sebagai apa pun.” Dan kehidupan Abraham penuh dengan hal-hal lain yang belum mau dilepaskannya. Dalam Kejadian 16 kita melihat Abraham dan Sara menjadi prihatin bagaimana Allah akan memenuhi janjiNya untuk memberikan keturunan – maka mereka memutuskan untuk menolong-Nya. Atas saran istrinya, Abraham berhubungan dengan Hagar, hamba istrinya dari Mesir (ayat 1-4). Anak yang dihasilkannya adalah Ismael, yang menjadi bapa bangsa Arab. Tidak akan ada krisis Timur Tengah sekarang ini seandainya Abraham tidak memutuskan untuk menolong Allah.
Saya percaya bahwa Sara mewakili satu lagi masalah dalam hubungan Abraham dengan Allah. Mezbah ketiga, yaitu Mezbah Hubungan, mewakili hubungan vertikal dan hubungan horizontal. Keduanya tak terpisahkan. Untuk mengenal Allah, Allah harus diberikan tempat yang menjadi hak-Nya dalam segala hubungan Abraham. Allah harus berbicara kepada Abraham tentang Lot dan mengeluarkan Lot dari kehidupan Abraham. Lot mewakili orang-orang dalam kehidupan kita yang tidak Allah kehendaki dalam kehidupan kita. Allah juga harus mengeluarkan Ismael dari kehidupan Abraham. Ismael mewakili faktor iman yaitu bahwa musuh terbesar dari berkat terbaik dari Allah adalah sesuatu yang baik. Allah menampakkan diri kepada Abraham dan menyuruhnya mengusir Ismael. Satu per satu, Allah menyingkirkan semua orang yang berebut tempat pertama dalam kehidupan Abraham. Sara masalah lain. Sara adalah gambaran orang yang memang ditempatkan Allah dalam kehidupan kita, namun yang tidak kita sadari sebagai karunia Allah. Allah harus dua kali menampakkan diri kepada Abraham tentang Sara. Kedua kalinya, Allah mengatakan, “Tentang istrimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki.” (17:15-16). Ketika Abraham mendengarnya, ia tertunduk dan tertawa! Ketika Sara mendengar kabar tersebut, ia juga tertawa! Setahun kemudian, lahirlah seorang anak bagi Abraham dan Sara, dan Allah menyuruh mereka menamainya Ishak, yang dalam bahasa Ibrani berarti “tawa.” Allah tidak pernah menghendaki “pahlawanpahlawan iman” ini melupakan bahwa mereka menertawakan-Nya ketika Ia memberitahukan apa yang akan Ia lakukan. Pada akhirnya, ketika Ishak masih muda, Abraham membangun mezbah keempat, dan inilah mezbah yang terpenting. Mezbah ini dibangun di gunung Moria. Moria artinya “Yehovah akan menyediakan.” Sebelumnya, Abrahamlah yang memilih lokasi mezbahnya. Akan tetapi mezbah keempat ini lain. Kali ini, Allahlah yang memilih lokasinya. Dan kali ini, Allahlah yang meminta persembahannya – yaitu Ishak. Ishak bukan saja putra satu-satunya Abraham dan Sara setelah mereka tua, melainkan juga penggenapan iman selama dua puluh lima tahun. Dan sekarang, bertentangan dengan nalar, Allah mengatakan, “Aku menginginkan Ishak.” Dan Abraham membawa Ishak dengan maksud memenuhi permintaan Allah. Akan tetapi pada menit-menit terakhir, setelah Abraham membuktikan ketaatannya, Allah menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti nyawa Ishak (lihat 22:1-19). Abraham menyebut tempat itu Yehovah-Jireh, yang berarti “Yehovah akan menyediakan.” Melalui mezbah-mezbah Abraham terdapat kiasan iman, bahwa pada gunung pilihan Allah, pada mezbah dimana “Allah yang diutamakan,” Allah menyediakan buah dari iman selama dua puluh lima tahun. Abraham bukan mempersembahkan Ishak pada mezbah keempat ini. Pada mezbah dimana “Allah yang diutamakan” ini Abraham mempersembahkan dirinya. Pesan Alkitab ialah “Allah yang utama”. Hal itu tidak mudah, namun juga tidak rumit. Entah apakah Allah itu Allah Anda, atau bukan. Pada akhirnya, bagi Abraham, Allah adalah Allahnya.   
Bab 10 Siapakah Engkau?  
Kisah Yakub adalah kisah yang menakjubkan. Nama Yakub berarti “Penyambar” sebab ketika ia lahir dengan saudara kembarnya, ia sedang memegangi tumit kakaknya itu. Ternyata Yakub hidup sesuai dengan namanya itu. Ada dua hal yang layak dimiliki dalam keluarganya dan Yakub
menyambar kedua-duanya. Hak kesulungan adalah warisan yang jatuh ke tangan putra sulung, dan berkat adalah janji yang Allah berikan kepada Abraham yang diteruskan kepada Ishak dan akan diteruskan kepada putra sulung. Esau, kakak Yakub, menjual hak kesulungannya kepada Yakub demi semangkuk sup dan Yakub memperdayai ayahnya dan mencuri berkat dari kakaknya. Setelah Yakub memperdayai ayahnya dan menyambar hak kesulungan dan berkat tersebut, ibunya datang kepadanya dan mengatakan, “Engkau harus pergi, Yakub, sebab kakakmu mau membunuhmu. Pergilah menetap pada Laban, saudara ibu, selama beberapa lama hingga kakakmu tenang.” (lihat 27:42-43). Pada malam pertama Yakub meninggalkan rumahnya, ia bermimpi. Di dalam mimpinya, Yakub melihat sebuah tangga melalui mana para malaikat turun naik ke langit. Dalam mimpinya Yakub melihat Allah menampakkan diri kepadanya dan menegaskan kembali janji-Nya kepada Abraham, yaitu kakek Yakub. Allah berjanji akan menjadikan Yakub bagian dari rencana-Nya, sambil menambahkan, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang telah Kujanjikan kepadamu.”  (28:15). Yakub terjaga dari mimpinya dengan penuh rasa takjub. “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” (ayat 16). Dan sebelum melanjutkan perjalanannya, Yakub mengambil batu yang telah digunakannya sebagai bantal dan mengurapinya dengan minyak, bersumpah akan mengembalikan sepersepuluh dari segala yang Allah berikan kepadanya (18-22). 
Pergumulan Yakub Yang terjadi berikutnya adalah bagian utama kisah tentang Yakub. Setelah dua puluh tahun bekerja keras bagi pamannya, Laban, Yakub mendapatkan pengalaman rohani yang sangat pribadi dengan Allah. Pengalaman tersebut digambarkan dalam Kejadian 32, di mana kita membaca: “Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang itu: ‘Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.’ Sahut Yakub: ‘Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.’ Bertanyalah orang itu kepadanya: ‘Siapakah namamu?’ Sahutnya: ‘Yakub.’ Lalu kata orang itu: ‘Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.’ Bertanyalah Yakub: ‘Katakanlah juga namamu.’ Tetapi sahutnya: ‘Mengapa engkau menanyakan namaku?’ Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: ‘Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!’ (24-30). Tolong Anda memperhatikan pertanyaan Allah kepada Yakub: “Siapakah namamu?” Di zaman Alkitab, nama mempunyai makna, seperti yang telah kita temukan. Nama menjelaskan sesuatu tentang orang yang bersangkutan, nama menjelaskan identitas orang yang bersangkutan. Dengan pertanyaan tersebut, Allah bukanlah menanyakan nama Yakub. Melainkan, “Siapakah engkau?” Dan tentu, hal itu bukan karena Allah perlu mengetahui jawabannya, melainkan karena Allah mau Yakub sendiri mengetahui jawabannya. Nama Yakub, seperti yang telah kita lihat, berarti “Penyambar.” Akan tetapi nama barunya, yaitu Israel, nama yang akan diemban seluruh keturunannya, berarti “Pejuang.” Ada satu hal penting lagi dalam kisah ini yang jangan sampai kita lewatkan. Saya menyebutnya “Berkat Mahkota Lumpuh.” Karena Yakub demikian nakal, Allah tidak bisa memberkatinya sampai Ia mematahkan kakinya. Terkadang Allah tidak bisa menembus kita dengan cara lain lagi, dan oleh karenanya Allah terpaksa melumpuhkan kita entah dalam hal apa, memaksa kita untuk mengandalkan Dia. Demikianlah yang terjadi pada Yakub. Dan pada akhirnya, Yakub menangkap pesan Allah. Ketika pada akhirnya ia berjumpa dengan Esau – dimana ia tidak menghajarnya melainkan merangkul dan mengecupnya – Yakub memberitahu Esau bahwa ia memiliki banyak istri, anak, dan ternak karena “Allah telah memberi karunia kepadaku.” (33:11). Bukan karena Yakub menyambarnya, melainkan berkat kasih karunia Allah. Kasih karunia adalah ciri Allah di mana Ia melimpahkan berkat-Nya kepada kita, padahal kita tidak pantas mendapatkannya. Belas kasihan Allah menahan apa yang sesungguhnya pantas kita dapatkan dari Allah. Allah juga mengajari kita untuk tunduk kepada-Nya. Terkadang Allah memilih melakukan hal itu dengan cara mematahkan kita, sehingga Ia dapat memberkati kita. Kita sungguh perlu memandang ke tiga tempat untuk mengetahui Allah menghendaki kita menjadi siapa. Pertama, kita perlu memandang ke atas. Dalam seluruh kisah Alkitab yang akan kita pelajari, kita akan melihat bahwa sering kali Allah membutuhkan waktu yang lama untuk membuat orang “memandang ke atas.” Akan tetapi memandang kepada Allah adalah suatu keharusan kalau kita mau mencari tahu Allah menghendaki kita menjadi siapa. Sebab Allahlah yang menciptakan kita. Dialah yang memegang rancangan bagi kehidupan kita. Berikutnya, kita perlu memandang ke dalam hati kita. Dalam Mazmur 139, Daud berdoa, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiranpikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (23-24). Kita semua perlu memohon agar Allah menyertai kita untuk menyelidiki hati dan kehidupan kita serta menuntun kita menjadi seperti yang Ia kehendaki. Pada akhirnya, kita perlu memandang ke sekeliling kita. Orang yang telah memandang ke atas dan telah benar-benar memandang ke dalam hatinya, sekarang telah siap memandang ke sekelilingnya dan berhubungan dengan sesama serta menjadi bagian dari rencana Allah bagi dunia. Apakah Anda pernah benar-benar memandang kepada Allah, untuk memahami apa yang Ia katakan tentang identitas Anda di dalam Dia? Seberapa sering Anda memandang ke dalam untuk melihat kondisi hati Anda? Apakah Anda memandang ke sekeliling untuk melihat bagaimana Allah menghendaki Anda berinteraksi dengan orang-orang dalam kehidupan Anda?