Tampilkan postingan dengan label Pendalaman Alkitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendalaman Alkitab. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Mei 2017

Pendalaman Alkitab - Kitab Imamat : "Tabut Perjanjian Pada Waktu Sekarang"






Dalam Kitab Kejadian, kita membaca bahwa ketika manusia berbuat dosa, konsekuensi terburuknya adalah perceraian atau perpisahan dengan Allah. Rekonsiliasi bagi perceraian adalah masalah yang fundamental. Untuk itulah
Alkitab dimaksudkan, begitu juga dengan Kemah Suci, yaitu sebagai solusi untuk masalah ini.
Lalu mengapa kita tidak lagi mempersembahkan hewan korban sekarang? Sebab persyaratan Allah telah berubah. Ketika kita membaca Kitab Ibrani, kita akan membahasnya lebih lanjut. Akan tetapi, ringkasnya, Ibrani 9 mengatakan bahwa Kemah Suci hanyalah lambang dari Tabut Perjanjian lainnya yang ada dalam dimensi sorgawi. Tabut Perjanjian sorgawi ini bukan terbuat dari material fisik. Materialnya adalah bahan sorgawi dan rohani.
Tabut Perjanjian yang Allah perintahkan dibangun oleh Musa hanyalah ekspresi sederhana, yang kelihatan, yang berwujud, dari tabut perjanjian rohani yang tak berwujud yang digambarkan dalam Ibrani 9. Ingatlah, ketika Yesus mati di kayu salib, tabir di bait Salomo terbelah dari atas ke bawah. Ingatlah juga bahwa sekali setahun sang imam besar akan masuk ke Tempat Maha Kudus, dan ia akan menumpahkan darah untuk membasuh dosa semua orang. Dalam pengertian yang sama, ketika Yesus mati di kayu salib, Ia menjadi Imam Besar Agung, dan di sorga, Ia masuk ke tabut perjanjian sorgawi. Pada Mezbah Tembaga di tabut perjanjian sorgawi, Yesus mempersembahkan kematian-Nya sebagai penggenapan akhir dari segala persembahan hewan korban. Ia pergi kebejana pembasuhan, dan hanya Yesuslah yang memungkinkan pembasuhan secara permanen.
Sebelum kematian Kristus, orang berdosa tidak dapat mendekati Allah. Hanya sang imam yang dapat mendekati Allah dan menjadi perantara bagi orang yang berdosa. Akan tetapi semuanya itu ditiadakan ketika Yesus Kristus mati di kayu salib. Ketika Yesus mati di kayu salib, Ia memungkinkan kita langsung datang ke hadirat Allah.
Implikasi penting lainnya adalah bahwa tubuh kita sekarang menjadi bait Allah. Intinya Paulus menulis: “Tidak tahukah kamu bahwa Roh Kudus diam di dalam kamu? Siapa pun yang menajiskan bait-Nya akan dihancurkan oleh Allah, sebab bait-Nya kudus dan kamu adalah bait-Nya itu.” Rasul Paulus berusaha menyampaikan kebenaran tersebut kepada jemaat di Korintus, yang dikuasai oleh dosa seksual. Paulus ingin menyampaikan: “Tubuhmu bukanlah untuk seks, tubuhmu adalah untuk Allah. Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Allah, dan Allah hidup di dalam kamu?”(1 Korintus 6:15-20). Dalam Kolose 1:27 Paulus mengatakan:“Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu:Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!”
Kristus di dalam diri Anda adalah suatu mujizat. Hal itu berarti bahwa kehadiran Allah ada di dalam diri Anda; dan hal itu juga berarti bahwa Anda sudah memiliki segala yang Anda butuhkan untuk hidup menurut cara hidup yang Allah kehendaki.
Sekarang mari kita membayangkan penerapan ilustrasi indah tentang kemah suci itu dalam kehidupan kita masing-masing. Ketika Anda bangun di waktu pagi, saya sangat merekomendasikan agar Anda bersaat teduh, menyembah di dalam hadirat Allah sebelum Anda keluar rumah dan menjalani kehidupan Anda hari itu. Cobalah membayangkan diri Anda memasuki Kemah Suci itu. Cobalah membayangkan diri Anda mendekati Mezbah Tembaga dan mempercayai Kabar Baik bahwa Yesus Kristus adalah Anak Domba Allah yang mati di kayu salib demi dosa-dosa Anda. Kalau Anda belum percaya kepada Yesus Kristus untuk pengampunan dosa-dosa Anda, lakukanlah sekarang juga. Lalu, ucapkanlah syukur kepada Allah atas pengampunan Anda pada salib Kristus, dan tegaskanlah keyakinan Anda bahwa Kristus adalah korban yang sempurna bagi dosa-dosa Anda.
Sekarang bayangkan Anda mendekati bejana pembasuhan, di mana Anda membasuh tangan dan kaki Anda, di mana Anda membutuhkan pembersihan terus menerus. Apakah ada hal-hal yang kotor dalam kehidupan Anda, yang tidak berkenan bagi Allah? Akuilah semuanya itu kepada Allah; berpalinglah dari semuanya itu sehingga Anda bersih.
Lalu, ibaratnya, Anda masuk ke dalam Tempat Kudus dan berdirilah di hadapan kandil. Ucapkanlah syukur kepada Allah atas Penyataan atau Wahyu-Nya, ucapkanlah syukur bahwa Ia tidak membiarkan Anda di dalam gelap perihal kehidupan dan keselamatan. Ucapkanlah syukur atas Firman- Nya.
Lalu bayangkan berdiri di hadapan meja roti sajian, dan ucapkanlah syukur atas pemenuhan segala kebutuhan Anda. Akuilah Allah sebagai sumber segala makanan dan segala milik Anda, dan sumber pemenuhan segala kebutuhan Anda. Akuilah Dia sebagai yang memenuhi kebutuhan Anda, dan akuilah hal itu dengan ucapan syukur.
Lalu, saat membayangkan Mezbah Ukupan, bayangkanlah mujizat doa. Luangkanlah waktu untuk mendoakan segala detil kebutuhan dan tantangan Anda hari itu. Lalu, ketika Anda membayangkan Tempat Maha Kudus, ingatlah bahwa ada yang namanya Kehadiran Allah yang Ilahi. Ingatlah bahwa Roh Allah ada di dalam diri Anda dan bahwa Anda dapat berada di dalam hadirat Allah di mana pun Anda berada. Anda tidak membutuhkan seorang imam untuk mewakili kita memasuki hadirat Allah. Anda tidak perlu menjalani struktur ibadah seperti di Kemah Suci, sebab ketika Yesus mati di kayu salib, Ia sudah memungkinkan Anda untuk langsung memasuki hadirat Allah.
Banyak sekali penerapan rohani dari Tabut Perjanjian ini. Yang terpenting adalah: Orang berdosa masih mungkin mendekati Allah yang Kudus dan benar-benar memasuki hadirat-Nya melalui cara hidup baru yang dimungkinkan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita.
Ketika kita menghargai apa yang telah dilakukan Allah untuk memungkinkan semuanya itu, mungkin kita berpikir bahwa manusia akan berbondong-bondong masuk ke dalam hadirat Allah. Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian. Mengapa? Apakah Anda pernah memasuki hadirat Allah yang Kudus? Yesus mengklaim, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau bukan melalui Aku.” (Yohanes 14:6). Kita melihat Injil ini digambarkan dalam Kemah Suci. Allah mau berjumpa dengan Anda dan menjadikan kehidupan Anda sebagai Tabut Perjanjian-Nya.



Senin, 13 Maret 2017

Pendalaman Alkitab: Kitab Imamat



Pendalaman Alkitab: Imamat 

Banyak orang yang membaca Alkitab menganggap Kitab Imamat sebagai kitab yang sangat sulit. Mereka bosan membaca segala spesifikasi Kemah Suci dalam tiga pasal terakhir Kitab Keluaran. Ketika sampai pada Kitab Imamat, mereka kehilangan tekad untuk membaca Alkitab hingga selesai. Kata “Imamat” secara harafiah berarti “berhubungan dengan orang Lewi.” Orang Lewi adalah imam orang Ibrani. 
               Untuk memahami Kitab Imamat, Anda mutlak perlu memahami “Tabut Perjanjian” di mana para imam ini bertanggung jawab mempersembahkan korban serta melaksanakan liturgi lainnya. Belakangan, bait Salomo, yang sangat detil, dibangun dengan pola yang sama seperti Kemah Suci orisinil yang dibangun oleh Musa di padang belantara. Salah satu hal paling penting tentang Kemah Suci adalah bahwa letaknya harus di tengah-tengah perkemahan sementara kedua belas suku Israel mengembara di padang belantara selama empat puluh tahun. Fakta bahwa Kemah Suci harus didirikan di tengah-tengah perkemahan mereka mengilustrasikan sesuatu. 
           Perintah Allah yang pertama mengatakan bahwa Allah harus diutamakan. Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah harus menjadi sentral kehidupan kita. Hal itu didemonstrasikan atau diilustrasikan oleh fakta bahwa Kemah Suci didirikan di tengah-tengah perkemahan mereka. Mungkin kesimpulan terpenting yang dapat kita petik tentang Kemah Suci adalah fakta bahwa Allah secara harafiah, secara nyata, bersemayam di dalam kemah tersebut. Kita diberitahu bahwa ketika Musa selesai membangun Kemah Suci ini, kehadiran dan kemuliaan Allah turun memenuhi bagian dalamnya, yang dikenal sebagai tempat maha kudus, melambangkan bagaimana Roh Kudus tinggal di dalam orang percaya sekarang ini. Saat bangsa Israel mengembara di padang belantara, awan yang melayang-layang di atas kemah ini memandu mereka. Ketika awannya bergerak, mereka pun bergerak. Ketika awannya berhenti, mereka pun berhenti. Dengan demikian awan ini menuntun mereka. Mereka boleh mendekati kemah ini untuk memohon ampun, untuk beribadah, dan untuk memohon petunjuk.  
           Konstruksi Kemah Suci  Sekarang kita sudah memahami maksud kemah ini, mari kita mengamati konstruksinya. Kemah Suci ini mempunyai pagar di sekelilingnya, terbuat dari bahan yang menyerupai kanvas. Area di dalam pagar yang mengelilingi kemah tertutup ini disebut halaman. Belakangan, halaman di bait Salomo dibuat cukup besar (lebih dari 5,5 hektar). Akan tetapi halaman Kemah Suci pertama ini tidak besar.
Ada beberapa perabotan dalam Kemah Suci ini yang sangat penting. Perlu kita perhatikan bahwa terdapat pegangan pada semua perabotan ini. Hal itu perlu sebab semuanya harus dibawa selama mereka mengembara di padang gurun. Perabot pertama di halaman, setelah melewati pagar, adalah Mezbah Tembaga. Mezbah ini menyerupai panggangan arang. Api pada mezbah ini terus dinyalakan. Ketika seorang pendosa datang ke kemah ini memohon ampun, ia akan disambut di pagar halaman oleh seorang imam. Lalu hewan yang ia bawa serta akan disembelih menurut penggambaran yang diberikan dalam Kitab Imamat. Setelahnya, hewan korban tersebut akan diletakkan oleh sang imam pada mezbah tembaga tersebut. Sang pendosa tetap di pagar halaman. Ia tidak pernah memasuki bagian Kemah Suci yang tertutup. Sang imamlah yang masuk ke dalam bagian tersebut menggantikannya. Setelah sang imam meletakkan hewan korbannya di atas mezbah terbuka, sementara asap korbannya naik kepada Allah, sang imam pindah ke perabot berikutnya di halaman, yang disebut bejana pembasuhan. Bentuknya seperti tempat mandi burung yang besar. Di sinilah sang imam akan membersihkan dirinya atas nama orang berdosa itu, yang tetap berada di pagar halaman.
             Tabut Perjanjian, atau bagian kemah yang tertutup, dibagi menjadi dua bagian. Bagian sebelah luar disebut Tempat Kudus. Ada sebuah tabir yang sangat tebal memisahkan Tempat Kudus ini dengan bagian sebelah dalamnya, yang disebut Tempat Maha Kudus. Di Tempat Maha Kudus itulah Allah bersemayam. Tabir ini dibuat dari bahan yang sangat kuat. Josephus mengatakan bahwa beberapa ekor kuda yang menarik ke arah berlawanan pun tidak akan sanggup mengoyakkannya. Sedangkan tabir di bait Salomo, yang masih digunakan di zaman Yesus, berukuran demikian besarnya sehingga menyerupai tirai teater. Kita diberitahu dalam Injil bahwa begitu Yesus mati di kayu salib, tabir ini, yang memisahkan Tempat Kudus dengan Tempat Maha Kudus, terbelah dari atas ke bawah (lihat Markus 15:38). Demikianlah salah satu mujizat besar dalam Alkitab, sayangnya sering kali kurang diperhatikan. 
              Ada empat perabot di dalam Kemah Suci. Setelah membersihkan diri di halaman pada bejana pembasuhan, sang imam masuk ke bagian pertama dari kemah yang tertutup, yaitu Tempat Kudus. Di sebelah kirinya terdapat kandil. Kandil ini sangat penting. Kandil ini merepresentasikan Penyataan atau Wahyu yang telah Allah berikan kepada umat Allah ketika Ia memberi mereka Firman Allah – dan, tentu, penyataan atau wahyu ini menunjukkan bagaimana caranya mendekati Allah. Maka sang imam akan beribadah di hadapan kandil ini dan mengucap syukur kepada Allah atas Penyataan atau Wahyu yang telah Ia berikan kepada umat-Nya serta kepada si pendosa yang masih menunggu di pagar halaman.
               Di sebelah kanan terdapat meja-meja tempat menaruh roti sajian. Tujuannya adalah untuk mengingatkan sang imam tentang apa yang dilambangkan oleh manna, bahwa Allah memberi kepada kita makanan yang secukupnya setiap harinya. Berikutnya, bersandar pada tabir yang menutupi jalan menuju Tempat Maha Kudus, terdapat Mezbah untuk membakar ukupan. Pada Mezbah ukupan ini sang imam akan berdiri dan berdoa syafaat bagi si pendosa yang tetap menunggu di luar. Demikianlah sang imam akan melakukannya sejauh itu, lalu ia akan kembali menjumpai pendosa lainnya dan mengulang prosedur yang sama. Sekali setahun, semua orang akan berkumpul di sekeliling Kemah Suci. Pada kesempatan ini, imam besar akan masuk ke Tempat Maha Kudus di balik tabir dan mempersembahkan korban darah demi dosa semua orang. Saat kita mempelajari Kemah Suci ini, perlu kita sadari bahwa setiap perabot di dalamnya mepresentasikan kiasan gambaran tentang Yesus Kristus. Oleh karenanya, mari kita mempelajarinya satu per satu. 
               Perabotan Kemah Suci Mezbah Tembaga sesungguhnya melambangkan Injil Perjanjian Baru. Semua hewan korban yang dipersembahkan pada Mezbah Tembaga ini, dan semua persembahan hewan korban yang pernah dilakukan, digenapi ketika Yesus mati di kayu salib. Mezbah Tembaga ini mengatakan, “Engkau tidak bisa mendekati Allah yang kudus tanpa persembahan. ‘Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.’” (lihat Ibrani 9:22). Perabot yang disebut Bejana pembasuhan, di mana sang imam membersihkan dirinya sebelum masuk ke Tempat Kudus, mau mengatakan apa yang banyak dinyatakan dalam Kitab Suci: “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya.” (Mazmur 24:4).
               Persekutuan dengan Allah adalah tujuan utama Kemah Suci. Segalanya bergerak ke arah sana. Dan dalam Alkitab, persekutuan dengan Allah sering kali diumpamakan sebagai hidangan. Bejana pembasuhan ini mengilustrasikan apa yang sering dikatakan oleh ibu kita ketika kita masih kecil, “Basuhlah tanganmu sebelum duduk di meja makan.” Bersihkanlah dirimu sebelum bersekutu dengan Allah. Anda harus dibasuh, Anda harus dibersihkan. Demikianlah arti bejana pembasuhan itu. Sementara sang imam berdiri di hadapan kandil emas, ia mengakui bahwa Allah itulah sumber Alkitab. Ia mengakui bahwa Firman Allah adalah terang yang memandu kita. Ia beribadah dan mengucap syukur kepada Allah yang memberikan penyataan atau wahyu kepada orang berdosa yang menunggu di luar, tentang bagaimana ia dapat diselamatkan dan mendekati Allah yang kudus dalam ibadah. 
           Meja tempat menaruh roti sajian melambangkan fakta bahwa Allah akan memelihara umat-Nya dan memenuhi kebutuhan mereka. Jelas bahwa Allah tidak pernah menghendaki kita melupakan fakta bahwa Dialah sumber ketahanan kita. Allah menghendaki kita mempercayai-Nya dan bersandar kepada-Nya untuk segala kebutuhan kita, baik fisik, emosional, mental, maupun rohani. Berikutnya, ada Mezbah untuk membakar ukupan. Saat sang imam berdiri di hadapan mezbah ini, ia akan berdoa bagi si pendosa yang tetap menunggu di luar pagar halaman. Dalam hal ini, sang imam menggambarkan Yesus Kristus, Imam Besar Agung kita, yang berdoa syafaat bagi kita kepada Bapa. 
               Rangkuman Segalanya dalam Kemah Suci adalah tentang Yesus. Dialah Terang Dunia, Dialah Roti Kehidupan, Dialah korban yang sempurna. Dialah yang datang membersihkan kita. Sesungguhnya Injil Yesus Kristuslah yang Anda lihat dalam Kemah Suci itu. Hanya dengan memahami Kemah Suci itulah Anda dapat memahami Kitab Imamat sebab Kitab Imamat adalah buku panduan yang digunakan oleh sang imam saat ia memimpin upacara dalam Kemah Suci. Apakah Anda mengenal Yesus yang digambarkan dalam kemah suci ini? [sabda.org]

Rabu, 15 Juni 2016

Pendalaman Alkitab : Keluaran - Inti Sepuluh Perintah Allah




Sekarang saya mau membahas Sepuluh Perintah Allah, yang kita lihat dalam Keluaran 20:1-17. Kesepuluh Perintah Allah ini merangkum inti dari ratusan perintah yang lebih spesifik.  Kesepuluh Perintah Allah ditulis pada dua loh batu. Pada loh yang satu ditulis empat perintah, yang keseluruhannya mengatur hubungan kita dengan Allah: 1. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. 2. Jangan menyembah berhala. 3. Jangan menyebut nama-Ku dengan sembarangan. 4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. Keempat perintah tersebut mengatur hubungan kita dengan Allah.  Loh yang kedua memuat enam perintah, yang mengatur hubungan kita dengan sesama. 5. Hormatilah ayah dan ibumu. 6. Jangan membunuh. 7. Jangan berzinah. 8. Jangan mencuri. 9. Jangan berbohong.   10.  Jangan mengingini.
Mari kita mendalami Sepuluh Perintah Allah ini untuk melihat apa maksudnya. 

Perintah pertama mengatakan, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Dikatakan bahwa Alkitab dapat dirangkum menjadi dua kata: “Dahulukan Allah”. Demikianlah inti dari perintah pertama.   

Perintah kedua melarang kita untuk membuat patung atau apa pun yang menyerupai apa pun di langit atau di bumi dan menyebutnya Allah. Secara harafiah, perintah ini melarang penyembahan berhala. Akan tetapi, inti dari perintah ini yaitu: Allah adalah Roh. Kita diperintahkan untuk datang kepada Allah dengan iman. Karena Allah adalah Roh, objek iman kita akan selalu tidak kelihatan. Demikianlah Allah memerintahkan pendekatan kita kepada-Nya dan hubungan kita dengan-Nya. Ia mau kita datang kepada-Nya dengan iman. Kalau kita berusaha menjadikan sesuatu berwujud fisik atau kelihatan dan mengatakan bahwa hal tersebut merepresentasikan Allah, kita menghilangkan kebutuhan akan iman.   

Perintah ketiga adalah bahwa kita dilarang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Walaupun sebagian besar orang mengasumsikan bahwa hal itu terutama menyangkut kata-kata kotor, inti perintah ini adalah lebih luas daripada itu. Intinya, setiap kali Anda menyebut nama Allah, bahkan dalam ibadah pun, hendaknya Anda mengingat siapa Allah itu dan tidak menyebut nama-Nya dengan sembarangan, atau menyebut nama-Nya tidak sesuai dengan maksud yang diwakili oleh nama-Nya. Janganlah kita menyebut nama-Nya dengan sembarangan atau tanpa pertimbangan atau secara tidak hormat, bahkan ketika kita sedang beribadah pun. 

Perintah keempat memerintahkan kita untuk mengingat hari Sabat dan menjaga kekudusannya. Secara harafiah, hal ini banyak penerapannya dalam ratusan perintah dalam Hukum Taurat. Banyak aturan Yahudi bertumbuh dari perintah ini, namun prinsipnya serupa dengan perintah pertama: Dahulukan Allah dalam kehidupan Anda. Luangkan waktu hanya bagi-Nya. Penerapan lainnya dari prinsip Sabat adalah istirahat. Sekarang ini terjadi wabah kelelahan fisik maupun emosional karena orang melanggar inti perintah keempat ini. 

Ketika Anda membuka loh kedua, Anda melihat perintah-perintah yang berhubungan dengan orang-orang dalam kehidupan Anda. Yang pertama tentunya berhubungan dengan orangtua Anda. Dalam keadaan normal, orangtua adalah orang pertama dengan siapa Anda akan berhubungan. Perintah kelima ini mengatakan bahwa kita harus menghormati orangtua kita. Inilah satu-satunya perintah yang mengandung janji: Kalau engkau menghormati orangtuamu, engkau akan panjang umur (12). Akan tetapi jangan lupa bahwa perintahnya adalah menghormati orangtua Anda. Belum tentu mentaati mereka. Alkitab mengajarkan bahwa anak-anak harus mentaati orangtua mereka. Ketika Anda masih kecil, Anda harus taat. Akan tetapi perintah kelima ini dimaksudkan bagi orang dewasa, di mana kita harus menghormati orangtua kita. Salah satu alasan mengapa hal ini penting adalah karena memberikan contoh bagaimana anak-anak Anda seharusnya menghormati Anda.  

 Perintah berikutnya melarang kita untuk membunuh. Bukan dalam artian harafiah, sebab ada ayat-ayat di mana Allah justru memerintahkan umat-Nya untuk membunuh (lihat antara lain Kejadian 9 dan Roma 13). Inti perintah ini adalah bahwa nyawa itu ada dalam tangan Allah, Allahlah yang memberikan nyawa, dan oleh karenanya, adalah hak prerogatif Allah sendiri untuk mencabut nyawa.   
Perintah ketujuh melarang kita untuk berzinah. Saya percaya bahwa inti perintah ini adalah apa yang mungkin kita sebut sebagai “hak anak-anak.” Adalah rencana Allah, seperti disebutkan dalam Kejadian 2, untuk mempersatukan laki-laki dan perempuan menjadi pasangan menikah, agar mereka bisa menjadi orangtua dan menghasilkan individu-individu yang akan menjadi pasangan menikah lagi dan orangtua lagi. Pernikahan adalah konteks aman di mana Allah menghendaki anakanak dibesarkan dan dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan. Jadi, ketentraman anak-anak tergantung pada komitmen atau kesetiaan pasangan menikah yang bersangkutan. Saya percaya bahwa itulah inti perintah ini. Allah memikirkan keluarga dan anak-anak ketika memerintahkan: Jangan berzinah. 

Perintah kedelapan adalah jangan mencuri. Inti perintah ini adalah bahwa Allah adalah Allah yang teratur. Berdasarkan kasih karunia-Nya dan apa yang kita tabur dan tuai, kita mengakumulasikan aset tertentu dalam kehidupan kita. Ketika Anda mencuri, Anda melanggar keteraturan yang Allah kehendaki. Struktur yang ditetapkan Allah inilah inti dari perintah kedelapan ini. 

Perintah kesembilan adalah jangan mengucapkan saksi dusta. Menurut saya, sebagian besar orang kurang memahami betul perintah yang satu ini. Kita cenderung berpikir tentang kebohongan besar dan kebohongan kecil, kebohongan hitam dan kebohongan putih. Salah satu cara paling cerdik untuk berbohong adalah mengatakan kebenaran di luar konteks, atau mengatakan hanya setengah kebenaran. Orang menjadi ahli dalam hal ini ketika mereka ingin membunuh karakter seseorang. Akan tetapi perintah ini jelas sekali menyingkapkan niat-niat seperti itu dengan mengatakan jangan mengucapkan saksi dusta. Tidak peduli seberapa cerdik Anda melakukannya. Kalau Anda memberikan kesan yang salah, entah besar entah kecil, dengan perbuatan atau pun kelalaian, Anda melanggar perintah kesembilan ini. Inti perintah kesembilan ini adalah mengkomunikasikan kebenaran melalui ucapan, gerak-gerik, atau sarana lain. 

Perintah terakhir melarang kita untuk mengingini. Inti perintah ini mirip dengan perintah kedelapan: Jangan mencuri. Allah memang mempunyai kehendak tentang apa yang kita miliki. Pasangan kita, keluarga kita, rumah kita, posisi kita, keseluruhan tempat kita dalam kehidupan. Allah memang mempunyai kehendak tentang hal-hal tersebut. Menurut Kitab Suci, kita tidak boleh membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita semua adalah individu yang unik. Ketika Allah menciptakan kita, Ia tidak menggunakan pola yang sama. Ia tidak mau kita menjadi seperti siapa pun juga. Ia tidak mau siapa pun juga seperti kita. Oleh karenanya, janganlah kita membandingkan diri dengan sesama dan janganlah kita iri atau mengingini apa yang dimiliki orang lain. Iri dan mengingini menunjukkan bahwa kita tidak puas dengan kehendak Allah bagi kehidupan kita. Saya percaya demikianlah inti perintah kesepuluh.